Gerak dan Kehampaan
Februari 20, 2026Dalam setiap gerak tubuh saya, awalnya saya upayakan benar untuk menghapus semua tentang engkau. Dan ketika pekerjaan semakin berat dan padat saja tiap waktu saya hanya merasakan persendian yang agak nyeri. Meski seribu bayangan dirimu masih berkelebat tapi saya mencoba untuk menutup mata saja jika kelebatan itu mendekat.
Di waktu sekarang ini nuansa sekitar memeluk saya untuk mendekat kepadaNya. Gerakan tubuh yang diikuti jiwa yang menghamba padaNya, meredakan perih yang menyayat hati.
"Tuhan tolong cabut saja segala rasa ini. Saya telah bersalah. Jaga dia. Beri dia keberkahan hidup."
Begitu doa saya, pinta saya. Bersimpuh dengan dada sesak dan kepala berat, sementara perut terasa bagai dilanda badai bergemuruh tak menentu.
Lembaran buku catatan telah penuh dengan pertanyaan tak terjawab. Bagaimana bisa menemukan jawaban, menemukan engkau saja saya buta arah. Tapi .... Biarlah. Sebab kita sudah berpisah jalan dan kembali asing.
Mungkin saya akan meniti jejak langkah yang engkau pernah tinggalkan. Menapak tilas pada buku buku yang kau baca. Pada paragraf paragraf yang memenuhi benakmu. Meski nanti buku buku kesukaanmu itu telah saya baca dan kita tak bisa berbincang membahasnya, tak mengapa. Tak mengapa. Sebab kehampaan ini yang pada akhirnya kau pilihkan untuk saya tempuh, bukan?




















0 Comments