Tak Meninggalkan Jejak

Februari 16, 2026



Hujan masih rajin berkunjung. Pagi ini pun masih gerimis sisa hujan lebat semalam. Dan saya juga masih sesekali merasa sesak oleh menghilangnya seseorang di hari hari belakangan. Entahlah ini sangat rumit. Meski sebenarnya juga sudah cukup jelas. Tapi perasaan ini membuat segalanya jadi ruwet.

Pagi ini saya bangun dengan perasaan yang lumayan ringan. Namun tak dapat dimungkiri bila sesak itu masih tersisa. Saya menghela nafas berkali kali tiap teringat. Suatu usaha untuk mengenyahkannya. Sesekali berhasil. Sesekali tidak. 

Saya akan sedikit ceritakan soal ini. Dia datang di ruang obrolan membawa suatu kisah kecil pengalamannya. Namun barang kali saya terlalu lama merasa sendiri. Hingga waktu yang singkat itu terasa begitu mengisi. 

Begitulah. Rasanya jadi terus bergantung. Saya mendapat efek dopamin setelah berbincang dengannya. Menjadi begitu bersemangat melakukan pekerjaan dan segalanya terasa menyenangkan sekalipun saya menemui kesulitan. Namun ternyata itu tak bertahan lama. Ia menghilang menguapkan sebagian perasaan saya. Mengurung saya di ruang hampa. Dada ini sesak, pikiran berkabut, wajah saya  seolah tak mengenal senyum. 

Berhari hari saya berharap. Sampai akhirrnya saya di titik pemahaman ini. Ohhh naif sekali saya. Begitu bodohnya untuk memahami sesuatu yang mudah dan sudah cukup jelas ini. 

Lantas saya juga ingin tegar seperti dirinya. Seperti tak terjadi apa apa. Pergi begitu saja. Bukannya saya ahli ya kalau soal pergi tanpa meninggalkan jejak, diam, dan mengabaikan? Kini saya jadi pihak yang dicampakkan. Wahh... Mungkin saya sudah banyak bersalah dan pantas dihukum begini. 

Nahh tapi saya ingin menjadikan ini sebagai sebuah momentum. Saya ingin merayakan ini dengan membaca buku sastra klasik kegemarannya. Yang selama ini belum pernah menarik perhatian saya. Mungkin ini memang agak menyedihkan. Sampai akhir pun saya malah menenggelamkan diri ke dunia yang dia sukai. Membaca buku yang dia suka. Apa yang saya harapkan? Menemukan sosoknya di antara paragraf paragraf novel sastra klasik kegemaranya itu? Setidaknya saya ingin tahu buku seperti apa yang memenuhi kepalanya. Buku seperti apa yang kerap ia kutip saat kami berbincang. Saya ingin tahu.

Dan ini untuknya jika suatu hari  kelak membaca ini sampai akhir:
Mungkin alasan kenapa saya menjadi sesesak ini adalah karena kamu tak berpamitan dengan benar. Kalau saja tidak ada kata, nanti...begini saja dulu... Saya juga tidak akan menunggu maupun berharap. Meski  kamu tak kembali, saya rasa kamu akan abadi di hidup saya dan sudah terawetkan di dalam memori ini. Jangan khawatir, saya akan perlahan menyingkir dan tak lagi bersinggungan denganmu. 

You Might Also Like

0 Comments

BLOG ARCHIVES

TIFANNY'S BOOKSHELF

Harry Potter and the Half-Blood Prince
Angels & Demons
Mati, Bertahun yang Lalu
Le Petit Prince: Pangeran Cilik
Di Kaki Bukit Cibalak
Goodbye, Things: Hidup Minimalis ala Orang Jepang
Orang-orang Proyek
Guru Aini
86
Ranah 3 Warna
The Da Vinci Code
Animal Farm
Hacker Rp. 1.702
Mata Malam
City of Thieves
Yang Fana Adalah Waktu
Kubah
Harry Potter and the Sorcerer's Stone
9 Matahari
Kim Ji-Yeong Lahir Tahun 1982

• T I F A N N Y •

•  T I F A N N Y  •
INFJ-T ・ semenjana ・ penikmat musik & es kopi susu ・ pencinta fotografi ・ pecandu internet ・ escapist traveller ・ sentimental & melankolis ・ suka buku & aroma petrichor ・ hobi journaling