Yang tak terlihat itu, di bahumu bergelayut beban dan nestapa. Hangat angin berhembus pelan membawa asin laut. Mengiringi mimpi mimpi yang pudar ditelan kenyataan. Sementara kakimu melangkah menyambut hari yang tak sepenuhnya kau pilih.
Wajah wajah belia, wajah wajah penuh harap, kau tatapi mereka satu persatu. Kau temani mereka yang membawa harapan. Ada yang juga sepertimu. Bebannya berat di pundak yang tak nampak oleh mata telanjang.
Kau pulang dengan desir lembut angin malam. Bahkan setelah matahari terbenam bebanmu pun tak juga meringan. Kantuk kau halau untuk menyusun lagi kekuatan buat esok. Segala yang hanya berupa keinginan kau tepis demi hal hal yang jauh lebih mendesak. Dan bahkan aku barangkali tak sempat menyelinap sedetik di riuh pikiranmu.
Lain waktu bila kau dapat melangkah dengan sedikit ringan. Pendar lembut lampu kedai kan merayu. Sejenak menyediakan bangku. Untuk kau duduk dan menguraikan kepenatan. Kau buka buku dan tenggelam ke dalamnya.
Aku tetap tak bisa menyelinap lewat manapun. Kau pulang dengan kantuk. Kita hanya bertemu di ujung hari dan bertukar ucapan selamat malam, selamat istirahat.





















