Setiap pagi setelah aku bangun tidur, aku selalu merasa asing saat berada di dapur rumahku sendiri. Tampaknya ada yang hilang entah apa. Semalam lagi dan lagi, aku mendengar suara suara berasal dari dapur. Namun kubiarkan saja, menarik selimut, dan mencoba untuk tidur. Dadaku bergemuruh. Amarahku seolah sudah di ubun ubun hendak pecah. Hanya rasa lelah dan kantuk saja yang membuatnya redam. Sering kali aku mengakui bahwa di usiaku sekarang, marah atau sakit hati benar benar menguras energiku.
Lantai yang dingin mencengkeram telapak kakiku. Aku berjalan perlahan dengan perasaan tak menentu. Seolah menjadi liyan di rumah sendiri. Padahal di rumah inilah aku bertumbuh dan ketika dewasa orang tuaku mempercayakan rumah ini padaku untuk melanjutkan merawatnya. Tentu seharusnya tiap ruang, tiap sudutnya sudah sangat akrab. Namun seperti yang sudah kukatakan, tiap pagi menjelang aku kehilangan ikatan.
Selalu ada kolong kolong yang membuatku takut dan bertanya tanya apa gerangan yang tersembunyi di sana? Benda benda yang terserak, diam, teronggok di rumah dan terutama dapur membuatku jeri. Aku sama sekali tak suka dengan rumah yang terlalu banyak barang. Tiap permukaan yang mereka tempati menyumbang satu keresahan di dalam hatiku. Berat rasanya. Tapi kemana harus aku singkirkan? Bagaimana kalau suatu saat kubutuhkan? Aku belum punya cukup uang jika harus membeli barang yang sama kelak karena terlalu gegabah membuang ini itu. Namun seringnya ketika aku berhasil membuang barang hingga berkantong kantong, perasaan lega memenuhi batinku. Aku seperti dibiarkan berlarian di tanah lapang yang rumputnya masih basah karena malam sebelumnya hujan baru turun.
Kuedarkan pandangan ke sekeliling. Tepat di depan pintu kamar mandi bercak darah tercecer berwarna merah terang. "Bodoh" umpatku. Alih alih membersihkan ceceran darah itu aku justru duduk di dingklik abu abu. Aku mereka ulang adegan di kepalau. Membayangkan mereka membuat kekacauan di dapurku. Apa saja yang sudah mereka jamah dan hancurkan. Karena merekalah aku selalu bangun dengan perasaan muak dan terasing. Belum lagi akulah yang harus membereskan kekacauan yang mereka perbuat. Kali ini darah tercecer. Lantai sebagian ternoda pula, hitam mungkin bekas jejak mereka. "Sialan" umpatan kedua pagi ini.
Harapanku bisa membuka hari dengan damai hanyalah angan. Bukan ini yang kuharapkan. Adakah yang salah dari doaku di masa lalu? Aku memang mengharapkan bisa membersihkan dapurku sendiri. Tapi bukan mebersihkan seperti ini yang kumaksud. Bila dapur ini harus kubersihkan alasannya ya karena aku yang habis sibuk menyiapkan makanan dan mencoba resep resep baru. Bukan dapur yang kotor karena di jamah makhluk lain. Aku sudah muak membersihkan tahi mereka yang bercecer di bawah kompor, sisa makanan mereka acak acak jika aku lupa membuangnya. Benda benda mereka jatuhkan, dan entah pergumulan macam apa yang mereka lakukan hingga kutemukan bercak darah. Hari ini akan kubeli racun tikus yang ada di lokapasar. Sudah terbeli 6ribu pcs dengan ulasan dari pembeli rata rata mengatakan ampuh membasmi dan mengusir tikus. Tunggu pembalasanku!





















