Di hari ulang tahun ke-81 Kemerdekaan Indonesia ini, aku mempertanyakan kemerdekaan. Betul, Indonesia sudah merdeka dari kolonialisme. Namun, aku tidak akan mencari celah untuk bermanis-manis menggambarkan kondisi kami sebagai rakyat sipil. Banyak hal yang masih menjadi persoalan yang membuat orang sepertiku gamang. Tidak hanya satu atau dua orang, tetapi banyak sekali.
Belakangan rasanya sulit untuk menyisihkan uang. Sebab, berbagai kebutuhan pokok harganya melambung tinggi seiring melemahnya rupiah. Berbagai barang kebutuhan yang seharusnya bersubsidi lama-lama dibatasi. Buntut dari sensus ekonomi kemarin ternyata salah satunya digunakan untuk memutuskan siapa yang berhak mendapat subsidi BBM.
Pagi ini langit mendung membingungkan dan sempat turun hujan. Namun, ritual tahunan perayaan hari kemerdekaan tetap berjalan. Tak peduli cuaca. Beberapa anak sekolah upacara bersama guru-guru yang hatinya masih bimbang. Ada yang dalam hatinya menangis. Kapan kesejahteraan mereka jadi prioritas negara?
Di hari kemerdekaan ini, hatiku semakin terasa sakit menyadari jurang ketimpangan yang ada di antara kami. Rakyat sipil dengan aparat negara. Rakyat biasa berpenghasilan UMR atau bahkan di bawah itu dengan para pengusaha yang memperoleh modal tak terhingga dari pejabat yang sedang mencuci uang.
Ada yang hari esok khawatir apakah masih bisa membeli beras. Ada yang tenang-tenang saja menikmati hari dengan begitu damainya, berlari pagi dengan sepatu seharga dua juta rupiah.
Kali ini bukan salah siapa yang tidak berusaha keras. Bukan salah kita kurang bekerja keras. Nyatanya, banyak orang yang rela menjalani dua pekerjaan. Enam belas hingga delapan belas jam terjaga untuk bekerja, tapi tetap saja uang yang dihasilkan belum tentu menutupi kebutuhan sebulan.
Negara gagal soal memenuhi kesejahteraan rakyatnya. Hak-hak dasar saja negara tak mampu menjamin. Rasa aman saja mereka tidak mampu menyediakannya. Malah, tiap hari merekalah ancaman kami.
Pemerintah mempertanyakan nasionalisme kami? Saat enggan mengibarkan bendera, mereka mengintimidasi. Jangan tanya apa-apa soal nasionalisme dan patriotisme pada rakyat sipil. Tanyakan pada mereka yang menimbun emas puluhan kilogram. Menilap uang triliunan rupiah dan merugikan negara.
Tidak. Bukan negara yang dirugikan. Tapi sebutkan saja dengan jelas. Kami, rakyatlah yang dirugikan.
Seharusnya semua itu bisa untuk membiayai kami mendapat pendidikan yang layak. Ah, jangan muluk-muluk. Yang paling dasar saja, menyediakan air bersih yang layak untuk kami, tempat tinggal untuk kami, layanan kesehatan untuk kami.
Merdeka yang kami harapkan adalah bisa terbebas dari jurang-jurang ketimpangan ini. Kehidupan yang layak adalah hak kami. Bukankah para pahlawan yang telah gugur mencita-citakan itu untuk kami? Mereka merebut kemerdekaan itu untuk kami keluar dari belenggu penjajah yang hanya mengeruk kekayaan alam untuk kesejahteraan segelintir orang?
Setelah 81 tahun, kenapa masih kutemukan kesamaan dengan hal-hal yang terjadi di era kolonial? Bedanya, ternyata status penjajah itu sama dengan kami. Sama-sama WNI.






















