Kesan yang kudapatkan saat membaca novel ini, aku merasa agak bingung di bab bab awal. Kok bisa Yuko sering berganti wali? Apa yang sebenarnya terjadi?
Novel ini menceritakan kehidupan seorang perempuan bernama Yuko yang baru saja naik ke kelas 3 SMA. Di kelas tiga itulah umumnya murid murid mulai memikirkan karir berikutnya. Yuko memilih untuk mengikuti seleksi masuk sekolah vokasi dengan masa yang lebih pendek ketimbang memilih mendaftar kuliah.
Cerita novel ini berjalin antara kisah masa kini kehidupam Yuko di kelas tiga SMA hingga kehidupan dewasanya menuju pernikahan dengan cerita masa lalunya saat kanak kanak. Di cerita kilas balik itulah aku mulai tahu apa penyebab Yuko mengalami pergantian wali yang juga menjadikannya 3 kali berganti nama marga.
Banyak hal yang aku suka dari buku ini. Baik dari penokohan maupun gaya penulisannya yang mengalir. Dari segi terjemahan, tentu saja membuat buku ini nyaman dibaca meski memiliki tebal 400an halaman, tidak terasa membosankan.
Hal hal yang kusuka:
Untuk ukuran remaja putri, Yuko termasuk orang yang cukup rasional dan penuh perhitungan bahkan dalam menentukan karirnya. Ia sudah memperkirakan karir mana yang sangat mungkin ia jalani termasuk memilih melanjutkan sekolah diploma dengan pertimbangan kemungkinan ia diterima cukup besar.
Selain itu Yuko sangat mudah beradaptasi. Meski ia sendiri mengalami gejolak emosi karena banyak terjadi perubahan yang sangat drastis di tiap tahap usianya, ia mampu mengelola emosinya dengan baik. Menurutnya jika ia terus terusan bersedih, ia tidak akan mampu menjalani kehidupannya dengan baik dan justru menghancurkan dirinya sendiri.
Sosok Morimiya-san, ayah tiri Yuko yang kedua, ia pun cukup rasional tapi selalu mencoba berperan sebagai ayah sebaik mungkin bagi Yuko. Meski memang Yuko kadang merasa kesal karena sifat Morimiya-san yang blak-blakan, agak egois, dan asbun, Yuko sangat menghargai segala usaha Morimiya-san.
Aku juga suka bagaimana penulis sangat detail mendiskripsikan berbagai hidangan yang muncul dalam cerita ini. Tidak terkesan dipaksakan meski kalau dipikir pikir lagi, adegan makannya banyak sekali hihi.
Sebetulnya inti cerita ini sudah cukup sering kujumpai, baik di novel, cerpen, drama maupun film Asia—Korea maupun Jepang. Bahwa hubungan keluarga kandung sering kali tidak berjalan baik. Justru dengan orang yang tidak memiliki hubungan darah tapi punya komitmen untuk menjalin hubungan keluarga, di situlah keharmonisan terbentuk. Saling tenggang rasa dan menyayangi. Saling menjaga dan mengupayakan apa pun demi orang yang disayangi.























