Bulan sabit menggantung di langit barat. Kemerahan cahayanya memancar. Kilat menyambar nyambar, nyalang. Meringkus segala keberanian mengubahnya menjadi gundah.
Bulan baru mengintip. Rindu yang samar samar tenggelam di antara tatap tajam yang terus mengintai. Tiada ingin kuserahkan apa yang hendak kau rampas. Bukan kau orangnya. Tapi matamu menyayat nyayat akal sehatku. Senyummu terus menebas nebas kakiku untuk rebah dan menyerah.
Tidak! Kubilang berulang. Meski kan sia sia. Tapi aku tak menyerah.





















