Untuk perjalanan atau mengadakan suatu acara, saya terbiasa mempersiapkan segala sesuatunya hingga detail terkecil. Namun, hal itu justru sering kali membuat saya lewah pikir. Belakangan, saya mencoba untuk lebih santai saja. Merencanakan dan memperhitungkan tetap dilakukan, tapi tidak berlebihan. Seperti rencana perjalanan piknik Bening yang diadakan oleh sekolahnya kemarin.
Rasanya unik. Mengingat saya dulu juga bersekolah di sekolah yang sama dengan sekolah Bening saat ini. Bahkan saya sudah melewati dua kali piknik dengan TK Aisyiyah karena menjalani dua kali TK nol besar hihi. Dan kemarin saya kembali ikut piknik mendampingi Bening.
Jadwal dan rangkaian kegiatan sudah tersusun rapi. Saya pun bisa memperkirakan barang bawaan apa saja yang mesti dipersiapkan. Dua hari sebelum hari yang ditentukan, saya bingung menentukan pembagian tas dan barang bawaannya. Saya enggan repot dengan barang bawaan dan tas yang terlalu banyak. Dengan perjalanan ke Jogja dengan durasi yang tidak sebentar dan akan lebih banyak berjalan sewaktu ke tempat wisata, saya lebih mementingkan kenyamanan ketimbang penampilan. Meski sempat terlintas juga pikiran, kalau pakai backpack saya jadi mirip kura-kura wkwkwkwk. Tapi ya sudah tak masalah. Demi kenyamanan.
Saya tidak terlalu merisaukan bagaimana dengan Bening. Meski ia mudah mabuk perjalanan saat naik kendaraan roda empat, saya berkeyakinan kali ini akan aman. Namun, ibu saya mengingatkan untuk membawa masker dan Antimo. Malahan saya sendiri nyaris sembrono tidak mengenakan jaket karena saya pikir cuaca akan sangat gerah. Untung saja sebelum berangkat mas suami yang baru saja pulang dari tempat kerja meminjamkan jaket yang ia kenakan. Hehe terima kasih.
Pukul 06.00 kami bertolak dari Temanggung menuju Yogyakarta International Airport. Di sana kami akan naik KRL menuju Stasiun Lempuyangan. TK Aisyiyah sudah memesan beberapa gerbong untuk kami naiki demi memberikan pengalaman naik kereta sungguhan. Betapa senangnya. Mengingat saya sendiri sewaktu kecil tidak punya pengalaman naik kereta sungguhan selain kereta di wahana permainan. Barulah setelah usia 20-an kakak mengajak saya naik KRL waktu di Depok. Pun kalau saya tidak menikahi Mas Erwin, pengalaman naik kereta mungkin akan sampai di situ saja hahaha. Ah jadi melantur begini.
Setelah dari stasiun kami menuju Kebun Binatang Gembira Loka. Dulu sewaktu saya kecil hampir sering ke kebun binatang ini. Terakhir kali ke sana saya melihat sekeluarga orang utan, gajah, dan unta. Saat ini saya hanya melihat satu orang utan saja di Gembira Loka, meski memang sekarang mereka memiliki lebih banyak koleksi hewan lain. Kira-kira sudah berselang 25 tahun sejak kunjungan terakhir saya.
Selama perjalanan Bening sangat menikmati berbagai hal. Meski lelah ia tidak pernah mengeluh. Bahkan dalam kondisi cuaca panas dan terasa gerah, ia tetap tenang dan mengalihkannya dengan menyanyi atau bermonolog, mengoceh seperti biasanya hihi. Saya sangat terbantu dan sungguh ini patut disyukuri. Dan saya sadari Bening agak asing dengan hal-hal viral. Seperti yang kita tahu, lagu Kicau Mania sedang sangat viral dengan jogetannya yang khas itu. Hmm ketika lagu itu diputar di bus, serentak anak-anak melakukan gerakan itu. Namun Bening bahkan baru tahu ada lagu Kicau Mania. Karena terlalu sering diputar di bus beberapa kali, dia pun berkata, “Buk, Bening suka sama lagu Cincau Mania.” Wkwkwk bahkan dia salah ucap. Kenapa jadi Cincau Mania sih dek 🤣
Kami berdua sama-sama bukan tipe orang yang suka ngemil di perjalanan. Memang terkesan pelit karena tidak membawa camilan seperti pada umumnya orang tua lain. Saya lebih senang membawa barang dan makanan yang mengenyangkan serta mudah dikonsumsi saat perjalanan. Dengan begitu kami berdua juga tidak terlalu repot membawanya.
Setelah dari kebun binatang, kami menuju Grand Puri Waterpark. Rasanya ketika tiba di sana kami seperti sudah menyewa satu lokasi waterpark ini haha. Hanya ada kami dari Temanggung. Di sana Bening bermain sepuasnya dengan air kolam yang tidak terlalu dingin dan dalam. Maka saya bisa santai memantau dari pinggir kolam tanpa harus ikut turun. Qodarullah, saya justru sedang haid hari kedua 🥺
Semua berjalan dengan lancar meski harus antre saat mandi. Begitu pula sewaktu membeli oleh-oleh. Betapa antreannya panjang dan menjemukan. Namun setelah menjadi orang tua begini, mau selama apa pun mengantre saya bisa tetap tenang karena di pikiran ini selalu ada kalimat yang menggema: tenang aja nanti juga selesai kok.
Yah meski saya sudah usia tiga puluhan, boleh dibilang proses menjadi manusia dengan pikiran dewasa masih terus berlangsung. Kadang pun saya bisa saja terlalu kekanak-kanakan melebihi Bening. Dia bisa saja lebih bijak dari ibunya. Bahkan dalam perjalanan ini saya belajar lagi soal kesabaran dan kebesaran hati Bening. Terima kasih nak.






















