Hidup akhir akhir ini begitu rumit. Apakah kita bisa memisahkan diri dari segala hiruk pikuk suasana di luar sana? Meski kita berusaha menjalani hari dengan tenang, pelan, dan tanpa konflik yang berarti, tetapi tiap hendak mengisi bahan bakar untuk kendaraan, membeli kebutuhan pokok, kita selalu terperangah. Segalanya melambung tinggi dan uang dalam dompet seperti merosot nilainya! Hidup macam apa ini?
Harusnya kita tak lagi punya waktu untuk hal hal sepele yang menyita perhatian dan air mata. Namun barang kali kita hanya hendak menghindar barang sejenak dari kenyataan yang menghajar kita hingga babak belur.
Kita jadi mudah menangis. Lalu air mata jadi komoditas yang bisa dieksploitasi. Film film menayangkan cerita sedih yang memeras air mata penonton yang hatinya sudah lebih dulu rapuh. Orang-orang menyerahkan uang dari dalam dompet yang sudah megap megap nyaris kosong. Lalu duduk menatap layar lebar untuk menangis. Padahal hidup sudah lebih menyesakkan. Tapi kita masih butuh alasan untuk melegalkan air mata. "Ahh aku menangis karena film itu sedih." Padahal hidupnya sendiri porak poranda tak kalah menyedihkan.
Namun ... Apakah kita bersepakat untuk tetap merawat keterhubungan dengan sesama kita untuk menciptakan kekuatan? Jangan sampai kita terpecah belah dan saling marah di situasi sekarang. Mungkin tangis dan rasa sedih yang sama menjadi hal yang bisa menyatukan kita. Kita tak punya apa apa lagi selain itu dan tentu saja pertolonganNya.
Amarah kita jangan salah alamat. Kita tak semestinya saling benci juga. Sadari memang mereka yang "memegang aturan main" dan bermain menantang Tuhan menginginkan kita terpecah belah agar mudah dihancurkan. Apakah kita menginginkan hal itu?
Rawat apa apa saja selagi bisa dirawat. Terhubung dengan siapapun yang ingin kita hubungi, sebelum segalanya gelap. Segala cara tak ada artinya lagi. Hanya harapan dan doa. Hanya bertahan dengan apa yang ada.






















