Rasanya belum pernah aku membaca kisah kehidupan masa SMA sehangat ini. Pengalaman terakhirku mengikuti kisah kehidupan SMA yang hangat kusaksikan dari serial drama Twinkling Watermelon. Porsi kehangatan bersama teman dan orang tua cukup seimbang. Konflik-konflik khas keluarga dan pertemanan juga cukup normal. Keceriaan masa SMA terasa hangat dan menyenangkan. Selama membaca Lalu Baton Diserahkan, aku merasa rileks. Terlebih dengan kepribadian Yuko yang tenang. Dia sangat rasional untuk ukuran remaja perempuan. Namun mungkin pengalaman hidupnyalah yang membuat ia tumbuh seperti itu.
Novel ini sebenarnya dibuka dengan cukup membingungkan untukku. Terutama karena Yuko, sang tokoh utama, telah berganti-ganti orang tua. Hmm kok bisa?
Ceritanya berjalin antara masa kini saat Yuko mulai naik kelas tiga SMA dengan kisah masa lalunya ketika kanak-kanak, yang membuatku perlahan memahami mengapa Yuko sampai tinggal dengan wali yang berbeda-beda sejak SD.
Banyak hal yang aku suka dari buku ini. Selain tentu saja Yuko yang meski ia sendiri mengalami berbagai gejolak dan merasa bingung karena perubahan mendadak yang sering terjadi di hidupnya, ia selalu mencoba untuk beradaptasi dan bertahan. Ia tak ingin larut dalam rasa sedih atau kecewanya.
Kemudian sosok Morimiya-san, ayah tiri Yuko yang kedua, ia pun cukup rasional tapi selalu mencoba berperan sebagai ayah sebaik mungkin, sehangat mungkin. Meski memang Yuko kadang merasa kesal karena sifat Morimiya-san yang blak-blakan, agak egois, dan asbun, Yuko sangat menghargai segala usaha Morimiya-san. Bahkan saat terjadi situasi yang kurang baik dalam hubungan mereka, Yuko dilanda stres yang membuatnya kurang fokus dan nilainya di sekolah menurun drastis. Padahal Yuko termasuk orang yang tegar. Bahkan saat ia dijauhi oleh seluruh teman sekelasnya, Yuko masih bisa melanjutkan hari-harinya dengan damai. Tak jarang juga sikap Morimiya-san membuatku tertawa. Paling lucu adalah saat Morimiya-san menuliskan pesan panjang di atas omurice menggunakan saus untuk Yuko yang akan menempuh tes seleksi ujian masuk diploma. Yuko bilang itu agak mengerikan seperti pesan kematian. Wkwkw.
Oh ya, hal menarik lainnya, penulis tampaknya juga semacam punya ketertarikan atau misi khusus soal kuliner. Narasi makan bersama sangat banyak dan cukup detail. Mulai dari bagaimana hidangan itu disajikan, apa saja bahan yang dipakai, dijelaskan secara detail lewat dialog tokohnya. POV Yuko yang menyantap makanan itu pun menambah detail soal bagaimana cita rasa makanan tersebut. Jujur rasanya aku seperti melihat adegan dengan jelas seperti sedang menonton dorama Jepang. Menarik.
Sebetulnya inti cerita ini sudah cukup sering kujumpai, baik di novel, cerpen, drama maupun film Asia—Korea maupun Jepang. Bahwa hubungan keluarga kandung sering kali tidak berjalan baik. Justru dengan orang yang tidak memiliki hubungan darah tapi punya komitmen untuk menjalin hubungan keluarga, di situlah keharmonisan terbentuk. Saling tenggang rasa dan menyayangi. Saling menjaga dan mengupayakan apa pun demi orang yang disayangi.























