Suatu pagi, selepas mengantar anak ke sekolah, saya berpapasan dengan seorang pedagang nasi jagung. Ia menurunkan tenggok bambunya perlahan, lalu membuka plastik penutupnya. Terlihat nasi jagung yang masih hangat, ditemani urap, empis tempe, rempeyek rebon, dan beberapa lauk sederhana lainnya.
"Seporsi, pinten, bu?"
Beliau tersenyum.
"Monggo ajeng ngresake pinten, kulo mboten ngarani, Mbak. Ajeng gangsalewu angsal, tigangewu nggeh angsal."
Silakan, mau bayar berapa saja. Lima ribu boleh, tiga ribu juga boleh.
Saya mendadak kikuk.
Dompet saya hanya menyisakan empat ribu rupiah setelah membeli bekal anak di warung.
"Kawanewu mawon, Bu. Kok kantun niki."
"Oh, njih, angsal, Mbak. Mboten menopo."
Sesampainya di rumah, saya justru dibuat terkejut. Sebungkus nasi jagung lengkap dengan urap, empis tempe, dan rempeyek rebon itu membuat saya nyaris tak sanggup menghabiskannya. Empat ribu rupiah ternyata cukup untuk mengenyangkan perut saya pagi itu.
Saya bersyukur.
Namun bersamaan dengan rasa syukur itu, muncul sesuatu yang sulit saya jelaskan. Ada ganjalan kecil yang tidak kunjung menemukan namanya.
Beberapa bulan kemudian, perasaan yang sama datang lagi.
Kali ini saya mampir ke toko kelontong milik tetangga. Di sana dijual nasi bungkus dan tahu susur yang sudah cukup terkenal di kampung karena rasanya.
Saya membeli satu bungkus nasi gudeg dan tiga buah tahu susur.
"Sepuluh ribu, Mbak."
Saya membayar tanpa banyak berpikir.
Baru sesampainya di rumah saya mulai menghitung-hitung sendiri.
Benarkah tahu susur sebesar kepalan tangan itu hanya dihargai seribu rupiah? Benarkah nasi pulen lengkap dengan gudeg, krecek pedas, irisan tempe, dan setengah butir telur rebus itu hanya dibanderol tujuh ribu?
Saya menyantapnya pelan-pelan.
Masakannya memang enak. Sangat enak, malah. Sampai-sampai saya bergumam sendiri, "Daripada beli gudeg di warung, ini jauh lebih enak."
Tetapi lagi-lagi ada sesuatu yang mengganjal.
Semakin murah harga makanan itu, semakin saya bertanya-tanya: bagaimana mungkin?
Belakangan saya mengetahui bahwa tahu susur itu dibuat oleh seorang asisten rumah tangga yang telah lama bekerja di rumah pemilik toko. Sebut saja Mbak N.
Sejak sebelum matahari terbit hingga menjelang petang, ia membersihkan rumah, menyiapkan dagangan, menggoreng tahu susur, dan membuat berbagai kudapan yang memenuhi etalase toko.
Menurut cerita ibu saya, upah hariannya sekitar tiga puluh lima ribu rupiah. Mungkin sekarang sudah naik menjadi empat puluh ribu.
Suatu siang saya pernah berpapasan dengannya ketika hendak menjemput putri saya di taman kanak-kanak.
"Ajeng kondur, Mbak?
Wah, jam sementen kok wangsul! Hah... seneni Londone. Melu Londo niki, Mbak.
Ia tertawa kecil. Saya ikut tertawa.
Namun sesudahnya, kalimat itu terus terngiang.
Dalam percakapan orang Jawa, kata Londo tidak selalu dipakai untuk menyebut orang Belanda secara harfiah. Kadang ia menjadi semacam sindiran bagi seseorang yang dipandang sebagai "tuan" oleh bawahannya.
Saya tidak tahu apa yang sebenarnya dimaksud Mbak N ketika mengucapkannya. Mungkin hanya gurauan. Mungkin pula ada rasa lelah yang dibungkus tawa.
Sejak membaca Naar de Republiek Indonesia edisi kritis seratus tahun, saya merasa ada yang berubah dalam cara memandang hal-hal sederhana.
Dulu saya hanya melihat makanan murah sebagai keberuntungan.
Kini saya mulai bertanya: murah bagi siapa?
Namun, pertanyaan itu selalu datang bersama kegelisahan yang lain. Saya sendiri bukan orang yang hidup berkecukupan. Empat ribu rupiah untuk sarapan bukanlah angka yang sepele bagi saya. Sepuluh ribu rupiah untuk sebungkus nasi gudeg dan tiga tahu susur benar-benar melegakan isi dompet saya. Sebagai ibu rumah tangga yang juga harus menghitung pengeluaran, saya bersyukur masih bisa membawa pulang makanan yang mengenyangkan dengan harga semurah itu.
Mungkin karena itulah saya tidak pernah bisa memandang persoalan ini secara hitam-putih.
Di satu sisi, saya membutuhkan harga-harga itu agar pengeluaran rumah tangga tetap bisa saya tekan. Di sisi lain, bacaan-bacaan tentang kritik ekonomi politik yang saya temui melalui Tan Malaka membuat saya perlahan bertanya: mungkinkah harga yang begitu murah hanya bisa tercipta karena ada seseorang yang menerima bagian yang terlalu kecil dari kerja yang ia berikan?
Saya tentu tidak mengetahui seluruh hubungan kerja yang berlangsung di rumah itu. Saya tidak tahu bagaimana kesepakatan antara Mbak N dan majikannya. Karena itu saya tidak berhak begitu saja menyimpulkan bahwa ia sedang dieksploitasi. Bisa jadi ada hal-hal yang tidak saya ketahui.
Barangkali yang paling mengganjal justru karena saya tidak merasa sedang berdiri di seberang Mbak N. Kami sama-sama sedang berusaha bertahan hidup, hanya dengan cara yang berbeda. Ia menjual tenaga dan waktunya. Saya berusaha menghemat setiap rupiah agar kebutuhan rumah tangga tetap terpenuhi. Ketika membeli tahu susur buatannya, saya tidak merasa sedang mengambil keuntungan darinya. Yang saya rasakan justru sebaliknya: kami seperti dua orang yang sama-sama sedang bertahan dalam keadaan yang serba terbatas.
Barangkali memang begitulah ironi hidup orang-orang kecil. Kami saling membutuhkan agar bisa terus melangkah, tetapi pada saat yang sama kami juga sama-sama berada dalam posisi yang rapuh.
Karena itu, sejak hari itu, sebungkus nasi jagung, sepiring gudeg, dan sebiji tahu susur tak lagi sekadar menjadi makanan yang murah dan mengenyangkan. Di setiap suapan, saya seperti melihat tangan-tangan yang bekerja sejak sebelum matahari terbit. Dan diam-diam saya berharap, harga yang terjangkau bagi orang-orang seperti saya suatu hari nanti tidak lagi harus dibayar dengan murahnya tenaga orang lain.






















