Saya baru saja membaca sebuah memoar yang ditulis oleh Haruki Murakami berjudul What I Talk About When I Talk About Running.
Setelah membacanya, saya merasa mengetahui sepotong kecil kehidupan Murakami. Selama ini aku hanya membaca karya-karyanya tanpa benar-benar tahu seperti apa dirinya dalam keseharian. Ia memang jarang membagikan kehidupan pribadi dan merasa itu tidak perlu. Namun melalui memoar ini (yang banyak bercerita tentang dirinya sebagai pelari) saya justru menangkap potongan-potongan sisi personalnya.
Saya baru tahu bahwa Murakami memulai karier menulis di usia 29 tahun, bahkan cenderung terjadi secara tiba-tiba. Sebelumnya ia telah membuka usaha kelab jazz yang cukup sukses. Tetapi ia mengambil keputusan besar: menutup usahanya dan berfokus sepenuhnya pada dunia menulis.
Keputusannya menjadi pelari pun terasa di luar dugaan. Awalnya sederhana, yaitu berolahraga untuk mempertahankan dan meningkatkan kondisi tubuh agar bisa terus menulis novel. Namun dalam perjalanannya, ia menjalaninya dengan sangat serius, mengikuti perlombaan maraton bahkan triatlon.
Pengalaman berlatih sambil tetap menjalani rutinitas pekerjaan itulah yang ia tuangkan dalam buku ini. Sebuah memoar yang terasa realistis karena Murakami juga menghadapi kegagalan, titik jenuh yang cukup memengaruhi hidupnya secara signifikan, serta berbagai pengalaman baru yang ia temukan meski usianya tak lagi muda.
“Tidak masalah berapa umurku bertambah, asalkan aku terus melanjutkan hidup, aku akan terus menemukan sesuatu yang baru tentang diriku.”
(hlm. 180)























