Sesungguhnya air mata yang telah berlinang sepekan lalu merupakan pertanda. Pertanda agar aku tenang dan menahan diriku. Namun sering kali apa yang kulakukan justru sebaliknya. Tak mengindahkan pertanda pertanda. Maka aku tersungkur, dinistakan. Aku ingin menangis tapi tinggal tetesan air mata di sudut. Belum juga jatuh tetesan itu mengering di pipi.
Kita semua sering kali terpana pada rupa raga saja. Terlebih aku yang telah jatuh saat melihat parasnya. Ia yang berbeda, mengalir di darahnya begitu lain percampurannya. Dari leluhur yang begitu gagah nan agung. Menitiskan paras yang indah. Mata yang berkilat tajam, alis yang tebal, bibir tipis yang tersenyum menggetarkan sanubari. Namun oh kasihanilah ia. Betapa tingkah dan lakunya itu sembrono bukan main. Aku memang tak pernah sejengkalpun lebih baik. Namun ia melampaui batas kewajaran. Menerobos batas batas. Aku tak tahu apakah aku sedih atas nasibku atau mengasihani ia yang sebegitu lemahnya diperdaya bisikan bisikan dari jagad demit yang seram dan kotor.
Aku tak punya kuasa untuk menuntunnya kembali pada cahaya. Atau aku akan terjerumus pula dan terjerat lalu sesak. Namun parasnya telah menjadikan aku tawanan yang menderita rindu oleh ekspektasiku sendiri.























