"Seorang Bendoro dengan istri orang kebanyakan tidaklah dianggap sudah beristri, seka-lipun telah beranak selusin. Perkawinan demikian hanyalah satu latihan buat perkawinan sesungguhnya: dengan wanita dari karat kebangsawanan yang setingkat." (Hal. 80)
Gadis Pantai • Pramoedya Ananta Toer • Lentera Dipantara • Cetakan Ke 10 • 2015 • 272 halaman • Novel Roman
Seorang gadis jelita dari sebuah kampung nelayan tiba-tiba tercerabut dari dunia yang selama ini dikenalnya. Bersama kedua orang tuanya, ia dibawa ke kota dan dinikahkan dengan sebilah keris, simbol pernikahan dengan seorang bangsawan yang bahkan belum pernah ditemuinya. Beberapa hari kemudian barulah ia bertemu dengan Bendoro, lelaki yang menjadi suaminya.
Begitulah Pramoedya Ananta Toer membuka pintu menuju dunia Gadis Pantai. Sebuah kisah tentang bagaimana seseorang dapat tercerabut dari akar hidupnya karena status sosial yang tiba-tiba berubah. Sejak menyandang sebutan Mas Nganten, Gadis Pantai memang memperoleh kedudukan yang lebih tinggi di mata banyak orang. Namun di balik panggilan yang terdengar terhormat itu, perlahan ia kehilangan sesuatu yang jauh lebih hakiki yakni kebebasan untuk menjadi dirinya sendiri.
Lewat novel ini, Eyang Pram membentangkan lanskap kehidupan yang nyaris bertolak belakang. Di satu sisi ada kampung nelayan yang riuh, egaliter, dan begitu lekat dengan alam. Di sisi lain berdiri rumah kaum priyayi yang serba tertata, penuh tata krama, tetapi juga menyimpan sekat-sekat yang nyaris tak kasatmata. Di sanalah kelas sosial tidak hanya menentukan bagaimana seseorang dipandang, tapi juga seberapa jauh ia berhak menentukan nasibnya sendiri.
Bagian yang paling mengusikku justru datang dari kenyataan yang sebelumnya tak pernah kuketahui. Bahwa pernah ada praktik yang menempatkan perempuan dari kalangan rakyat biasa sebagai istri percobaan seorang priyayi sebelum ia menikahi perempuan yang dianggap sederajat. Mereka dipanggil istri, menjalankan kewajiban sebagai istri, tetapi tak pernah benar-benar memperoleh kedudukan sebagai istri yang setara. Kehadirannya diterima selama diperlukan, lalu dapat disingkirkan begitu saja. Sulit rasanya membayangkan bagaimana martabat seorang perempuan dapat ditentukan sedemikian rupa hanya oleh garis keturunan.
Mungkin karena itulah novel ini terasa begitu menyayat. Penulis tidak sedang menghakimi tokoh-tokohnya. Ia membiarkan kenyataan tergambar melalui pengalaman Gadis Pantai. Kritik terhadap feodalisme, patriarki, dan ketimpangan kelas sosial menjelma dalam kegelisahan, kesepian, dan kehilangan yang dialami tokoh utamanya. Kisah ini terinspirasi dari pengalaman nenek Pramoedya sendiri. Pengetahuan itu membuatku memandang Gadis Pantai sebagai upaya mengabadikan pengalaman yang nyaris luput dari catatan sejarah.
Meski mengangkat tema yang getir, Eyang Pram tidak membiarkan novelnya tenggelam dalam kemuraman. Di beberapa bagian ia menyelipkan humor-humor kecil yang lahir dari keluguan masyarakat kampung nelayan. Bagiku, bagian-bagian semacam itu justru membuat cerita terasa semakin hidup dan sedikit jeda dari kepahitan hidup sang Gadis Pantai.
Aku juga menikmati bagaimana tokoh-tokohnya bertumbuh.Gadis Pantai tidak berubah menjadi sosok yang gagah berani dalam sekejap. Ia tetap rapuh, dipenuhi keraguan, tetapi perlahan belajar memahami dunia yang memaksanya dewasa lebih cepat. Pergulatan batinnya dituturkan dengan begitu tenang sehingga pembaca diajak turut merasakan.
Hal lain yang membuatku semakin mengagumi novel ini ialah cara Pramoedya bertutur. Bahasanya sederhana dan narasi yang indah. Ia mampu menyematkan kritik sosial yang tajam tanpa kehilangan kehangatan cerita. Bahkan ketika membicarakan relasi kuasa. Yang membekas adalah deru ombak yang perlahan menjauh dari kehidupan Gadis Pantai. Seolah-olah laut bukan sekadar latar, melainkan lambang kebebasan yang pelan-pelan dirampas darinya.
Aku menutup buku ini dengan perasaan yang ganjil. Puas sekaligus kecewa. Puas karena akhirnya dapat menyelami salah satu karya Pramoedya yang sejak lama ingin kubaca. Kecewa karena kisah ini seharusnya tidak berakhir di sini. Pramoedya semula merencanakan Gadis Pantai sebagai sebuah trilogi. Namun dua naskah lanjutannya hilang ketika disita pada masa Orde Baru. Barangkali karena itulah akhir novel ini menyisakan ruang kosong yang terus mengusik. Bukan semata karena ceritanya menggantung, melainkan karena kita tahu masih ada kehidupan Gadis Pantai yang tak pernah sempat dituliskan.
Pada akhirnya, Gadis Pantai bukan hanya novel tentang feodalisme atau ketimpangan kelas sosial yang pernah mengakar dalam masyarakat Jawa. Novel ini juga mengingatkanku bahwa sejarah kerap ditulis dari sudut pandang mereka yang berkuasa, sementara suara-suara seperti Gadis Pantai nyaris tenggelam bersama waktu. Barangkali itulah yang sedang upayakan Pramoedya: memberikan tempat kepada mereka yang selama ini hanya dikenang sebagai pelengkap kisah orang lain.































