Ulasan Buku: Tokyo Scholgirl - Osamu Dazai
Agustus 21, 2026Ketika membaca novela Tokyo Schoolgirl karya Osamu Dazai ini, aku kembali mengingat-ingat bagaimana masa remajaku bergulir. Rasanya jadi sedikit bernostalgia. Namun di sisi lain, karena kini aku juga seorang ibu dari anak perempuan, apa yang bergolak di hati si tokoh utama tidak bisa kuabaikan begitu saja.
Masa remaja adalah fase transisi yang penuh kebingungan. Di satu sisi, seorang anak sudah tak lagi pantas dimanjakan. Namun di sisi lain, ia masih terlalu rapuh untuk menghadapi rumitnya dunia sendirian. Si tokoh utama sering kali merasa akan jauh lebih tenang jika ada sosok dewasa yang bersedia menuntun langkahnya sembari tetap memberinya kepercayaan.
Tokoh utama kerap merasa bahwa ia akan lebih tenang apabila ada seseorang yang memberitahunya harus melakukan apa dan bagaimana menjalani hari-hari, sembari tetap memberinya kepercayaan.
Hal lain yang tak kalah menyentuh adalah dinamika hubungannya dengan sang ibu. Dazai dengan apik memotret rasa sayang yang berbaur dengan rasa canggung, kekesalan, sekaligus empati. Ada momen ketika si tokoh utama merasa iba melihat ibunya bekerja keras, tetapi di saat bersamaan ia juga cemas akan menjadi sosok dewasa yang sama. Bagi seorang ibu pembaca masa kini, bagian ini menjadi refleksi mendalam tentang bagaimana anak perempuan kita mengamati dan menyerap setiap sudut kehidupan orang tuanya.
Meski tipis, novela yang terbit pertama kali pada tahun 1939 ini menyimpan layer cerita yang amat kaya. Mungkin pembaca masa kini akan heran, mengapa remaja perempuan di cerita ini bisa semurung itu? Jawabannya ada pada konteks zamannya: Jepang saat itu sedang terhimpit suasana Perang Sino-Jepang Kedua, kondisi yang tentu memberi tekanan psikologis luar biasa bagi masyarakatnya.
Rating: 4.5 / 5
Sebuah bacaan tipis yang sanggup menggali ingatan masa lalu sekaligus memberi kacamata empati baru sebagai orang tua.




















0 Comments