Bulan Juli lalu saya berhasil membaca enam buku. Sebuah pencapaian yang cukup mengherankan, mengingat pada bulan yang sama saya juga mulai disibukkan dengan keseharian menyiapkan berbagai kebutuhan sekolah Bening yang, alhamdulillah, sudah masuk TK.
Entahlah. Mungkin salah satu alasan saya bisa betah menyelesaikan bacaan adalah karena saya mulai mengurangi kegiatan di media sosial, terutama Instagram. Selama ini saya memang mengandalkan Instagram, di samping YouTube, untuk memperoleh berita. Namun, lama-lama saya merasa lelah dengan pemberitaan yang rasanya jarang membawa kabar baik. Belum lagi pidato Prabowo yang, meskipun saya tidak sengaja mendengarkannya, selalu saja terdengar cuplikannya. Bikin emosi!
Enam buku yang saya tamatkan bulan itu terdiri dari fiksi dan nonfiksi. Buku-buku tersebut saya dapatkan dengan menyewa dari sebuah Sanggar Belajar di Temanggung yang bernama Universitas Balakarta. Pada mulanya, mereka hanya memperbolehkan orang membaca di tempat. Namun kemudian, mereka memberikan kesempatan kepada orang-orang seperti saya, yang tidak selalu punya waktu luang untuk berkunjung ke sanggar, untuk menyewa koleksi buku mereka.
Saat ini membaca buku nampaknya sedang menjadi tren. Karena itu, sepertinya pemerintah mulai melihat tren tersebut dan menarik pajak super tinggi. Harga buku kini melambung. Ada begitu banyak buku baru yang menarik perhatian, tetapi ternyata saya belum mampu membelinya.
Maka dari itu, saya memilih membaca buku yang benar-benar ingin saya baca, meskipun buku tersebut terbitan lama. Menelusuri rak perpustakaan, menyewa buku, atau meminjamnya dari teman.
Semenjak mencoba membuat ulasan pendek setiap kali selesai membaca buku, saya justru dipertemukan dengan orang-orang yang punya selera baca yang mirip. Beruntung, saya berkenalan dengan salah satu mutual di Instagram. Kami kemudian saling meminjamkan koleksi buku. Meski kami berbeda provinsi, jarak ternyata tidak menjadi penghalang. Kami memanfaatkan jasa ekspedisi untuk bertukar dan saling meminjam buku.
Kegiatan ini ternyata sangat menyenangkan. Saya juga merasa berkali-kali lipat lebih semangat membaca karena bisa sembari memperbincangkan buku-buku yang kami baca. Bahkan seiring waktu kami menjadi lebih dekat. Saling mendukung dan mendoakan. Kami menjadi tema bicara satu sama lain. Saya menyadari bahwa di kehidupan dewasa ini, setidaknya punya satu orang yang dekat dan memahami kita sudah lebih dari cukup. Mengingat waktu tak lagi seluang dulu, berkomunikasi lewat telefon dan chat, saling memastikan dalam keadaan baik, mendukung saat salah satu dari kami mengalami kesulitan, telah cukup membuat saya bertahan. Alhamdulillah.
Hal-hal kecil semacam ini mungkin menjadi salah satu upaya untuk tetap "waras" di tengah kehidupan yang semakin menggila.
Waktu rasanya begitu berharga karena semua orang sedang berjuang untuk bertahan dalam kehidupan ini. Waktu jeda pun terasa begitu berharga. Namun, jika kita tidak berhenti sejenak dan merefleksikan apa yang telah kita lakukan, rasanya hidup menjadi terlalu penat.




















