Mengapa Saya Berhenti Menonton Upacara Kemerdekaan
Agustus 18, 2026Salah satu rutinitas yang sering kali saya lakukan saat tiba tanggal 17 Agustus adalah menonton televisi yang menayangkan siaran langsung Peringatan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia di Halaman Istana Merdeka, Jakarta. Sejak SD ketika tiba di rumah saya cepat cepat berganti baju dan duduk di depan televisi bersama anggota keluarga lain, terutama bersama bapak yang paling antusias menonton acara tersebut. Saya pun jadi tertular rasa antusias itu.
Kami berdua bisa saling melempar komentar tentang berbagai hal yang tersaji di layar kaca. Mulai dari busana para tamu undangan sampai soal betapa kerennya barisan Paskibraka yang bertugas. Biasanya saat dibacakan profil petugas petugas upacara saya dengarkan dengan seksama. Siapa inspektur upacaranya, menempuh pendidikan di mana, asal dan tanggal lahirnya. Lalu kami akan saling melempar komentar: "oh iseh enom ya. Sak om kui."
Dari tahun ke tahun bagian yang paling saya tunggu tunggu adalah Atraksi Pesawat TNI AU. Kalau sudah terdengar suara dari pilot pesawat tempur yang memberikan ucapan selamat hari kemerdekaan, rasanya berdebar debar, ada rasa haru dan bangga melihatnya. Namun itu dulu sebelum terjadi covid. Ada beberapa hal yang membuat saya tidak lagi berminat menonton upacara ini.
Saya semakin sabar bahwa acara upacara itu semakin hari semakin memuakkan. Monoton dan pemborosan. Hal hal menarik dan indah itu jadi terasa menyakiti hati terlebih perayaan beberapa tahun terakhir dan kemarin! Di tengah terjadinya bencana alam di NTT rasanya perayaan dan pesta pora di Istana Merdeka jadi hal paling nirempati. Saya memilih untuk tidak lagi menonton acara itu karena hanya menimbulkan perasaan getir. Sudah menghindari televisi pun sialnya masih berseliweran juga di media sosial.
Banyak hal yang jadi bahan kritik. Mulai dari atraksi penerjun yang mengibarkan kain yg terpampang foto Prabowo sampai isi doa yang nauzubillah memuakkan memuji muji secara berlebihan terhadap presiden dan wapres.
...
Saya merasakan berbagai emosi bercampur aduk. Meninggalkan hal yang sudah menjadi kebiasaan rasanya tidak mudah. Ada yang terasa jadi kosong dan hilang.
Kini saya sadari bahwa rasa antusias yang timbul sebenarnya lebih pada momen kebersamaan dengan bapak. Pada momen itu saya biasa berinteraksi lebih lama dengan beliau. Duduk dan bicara bersama bapak dengan waktu yang lebih panjang daripada biasanya dalam suasana santai. Namun momen ini jadi hilang seiring dengan keengganan saya untuk menonton acara yang terlalu menghamburkan uang itu dan hanya dinikmati segelintir elite.
Bukan berarti saya tidak antusias atau hilang rasa nasionalisme. Entahlah. Saya merasa kecewa pada pemerintah. Melihat wajah wajah yang terlintas di layar hanya membuat saya merasa muak. Mengapa rasanya mereka sengaja tutup mata dan telinga dengan keadaan kami? Hmmm mungkin saya sudah berpikiran tidak adil menganggap mereka semua sama saja. Entahlah saya merasa sangat bingung dan tidak habis pikir. Rasanya ini momen 17 Agustus paling menyedihkan!




















2 Comments
Sama banget! Kok kayak biasa aja gitu liat upacaranya. Apalagi kalo inget upacaranya bahkan udah gak di IKN *upsss
BalasHapusEuforia kemerdekaan memang semakin kesini semakin hilang esensinya kak. Bahkan aku juga jadi termenung apakah betul kita ini sudah merdeka atau masih dijajah? Lelah bngt sama negara sendiri
BalasHapus