Cerita Cerita Kehilangan
September 06, 2026Berapa banyak orang yang mampu menceritakan saat-saat terlemah dirinya kepada orang asing?
Berapa banyak orang yang tanpa enggan menceritakan perihal kehilangan-kehilangan yang ia alami kepada orang yang baru ditemuinya?
Berapa banyak orang yang sanggup menceritakan kegagalan demi kegagalannya di masa silam kepada orang-orang yang baru dikenalnya?
Mengapa Bapak terus mengulang cerita-cerita kegagalannya? Mengapa Bapak terus mengulang cerita titik terendah kehidupannya di depan orang tanpa enggan dan tanpa diminta? Apa yang sebenarnya Bapak butuhkan?
Namun, di antara cerita yang sama yang diulang-ulang, tak jarang aku menemukan sesuatu yang baru. Baru aku ketahui.
Selama ini aku selalu iri pada Bapak yang seolah tak berduka, atau paling tidak lebih cepat berdamai dengan kepergian adikku, putri ketiganya. Sebab, Bapak juga tak memberi waktu bagi Ibu untuk memproses kehilangan dengan meminta mengandung anak lagi, bahkan dengan berani-beraninya mengharap kali ini harus anak laki-laki yang lahir.
Aku merasa marah. Apakah Bapak tidak berduka? Apakah Bapak tidak berkabung?
“ Saya waktu itu lagi di jalan, ada kerjaan. Sambil menyetir saya bilang dalam hati, ‘Dek, sadar ya. Bapak lagi cari uang buat pengobatanmu.’ Kemeja saya basah semua.”
Bapak menyimpan cerita ini dariku selama 25 tahun. Tapi hari ini tumpah ruah di depan keluarga suamiku, saat kami kembali berkumpul. Saat berkunjung. Kami membagikan pengalaman-pengalaman perihal kehilangan. Kehilangan suami, kehilangan istri, kehilangan anak, kehilangan kesempatan.
Runtuh luruh-lah semua pandanganku terhadap Bapak. Rasanya aku akan kembali membangun penilaian baru akan sosoknya.
Dia pun rapuh. Dia berduka.
Tidak ada di antara kami yang tidak berduka ataupun melupakannya. Seseorang yang hanya tiga setengah tahun bersama kami tetap abadi mengisi relung batin kami.




















0 Comments