Pudar

September 21, 2026

Aku lupa bagaimana bermula sampai akhirnya pekan lalu aku terserang batuk dan jatuh sakit. Bersamaan dengan anakku sehingga dalam sepekan kami sama sama terbaring di kamar. Aku yang dengan daya seadanya barusaha merawat dia pula. Mengambil air minum, menyiapkan makan seadanya yang kubisa dan dia mau menelannya sekadar untuk kemudian minum obat. Syukurlah kami perlahan membaik. Anakku kembali mendapatkan nafsu makannya dengan baik. Sementara aku seakan mencapai suatu kesadaran tertentu setelah sakit. 

Aku berpikir terlalu banyak mengiyakan ajakan orang dan tanpa aku sadari, kemampuanku tak seberapa. Aku memutuskan untuk keluar dari suatu kepengurusan komunitas yang kuikuti. Aku pun tak ingin teman teman di sana menjadi terbebani karena aku yang kondisinya tak bisa diprediksi ini. Aku punya tanggung jawab yang berbeda dari mereka yang masih muda dan single. Aku ibu satu anak dan juga masih perlu membagi waktu pula dengan hal hal yang harus kulakukan dalam kehidupan bermasyarakat di lingkunganku tinggal. 

Yah... Aku mengingat suatu momen soal ini. Setelah sepekan sakit ternyata aku hanya punya waktu beberapa hari saja merasakan kondisiku membaik. Aku kembali terserang batuk, nafasku terasa berat, dan lagi lagi demam. Sehari aku istirahat, sehari berikutnya ketika aku sudah merasa lebih baik aku harus datang membantu ibu ibu lain yang sibuk mempersiapkan hidangan untuk salah satu keluarga yang tengah berduka. Ini sudah menjadi tradisi di lingkungan kami. Meski ibuku berpesan aku tak usah terlalu lelah. Namun di RT tempatku tinggal hanya terdiri dari beberapa kk saja. Otomatis ibu ibu yang terlibat hanya terbatas. Dengan tenaga terbatas itulah kami semua harus mengerahkan tenaga lebih, bukan? Aku juga salut dengan ibu ibu yang lebih senior. Beliau semua sudah meluangkan waktu dan tenaga lebih. Aku merasa malu karena meski lebih muda aku ringkih begini. 

Aku yang baru merasakan seperti ini saja merasa kehilangan daya hidup. Segalanya terasa berbeda saat kondisi tubuhku menurun. Sehingga hal hal yang biasanya bisa kunikmati malahan jadi hal yang kuhindari karena khawatir kondisiku tak kunjung membaik. Aku berusaha untuk membuat diriku berbahagia lewat hal hal yang lebih sederhana lagi. 

You Might Also Like

0 Comments

BLOG ARCHIVES

TIFANNY'S BOOKSHELF

Harry Potter and the Half-Blood Prince
Angels & Demons
Mati, Bertahun yang Lalu
Le Petit Prince: Pangeran Cilik
Di Kaki Bukit Cibalak
Goodbye, Things: Hidup Minimalis ala Orang Jepang
Orang-orang Proyek
Guru Aini
86
Ranah 3 Warna
The Da Vinci Code
Animal Farm
Hacker Rp. 1.702
Mata Malam
City of Thieves
Yang Fana Adalah Waktu
Kubah
Harry Potter and the Sorcerer's Stone
9 Matahari
Kim Ji-Yeong Lahir Tahun 1982

• T I F A N N Y •

•  T I F A N N Y  •
INFJ-T ・ semenjana ・ penikmat musik & es kopi susu ・ pencinta fotografi ・ pecandu internet ・ escapist traveller ・ sentimental & melankolis ・ suka buku & aroma petrichor ・ hobi journaling