November N-nya apa? Ngider ke sana ke sini!
Entah mengapa, November kali ini terasa seperti ditarik tarik keluar rumah. Baterai energi sosialku yang biasanya tipis pun dipaksa bekerja ekstra, sampai rasanya seperti hidup dalam mimpi yang penuh aktivitas. Bahkan memikirkannya saja sudah cukup membuatku lelah. Tapi di balik semua itu, aku bahagia. Ada banyak pengalaman tak terduga yang mengisi hari-hariku. Tulisan ini adalah jejak kecil tentang hal-hal menarik yang kulalui sepanjang November.
1. Menyudahi Era BBB
Awalnya aku benar-benar tidak berniat membeli buku. Aku sedang BBB dan kupikir itu alasan yang cukup untuk menahan diri. Tapi November rupanya punya rencana lain.
Suatu hari, aku membuka marketplace dan mendapati beberapa buku wishlist sedang diskon. Rasanya seperti semesta memberi kode. Tanpa banyak pertimbangan, beberapa buku bahkan yang tadinya bukan wishlist ikut masuk ke keranjang. Dan jujur saja, aku bahagia sekali.
Yang paling membuatku senang tentu saat akhirnya bisa mendapatkan Kokokan Mencari Arumbawangi. Lalu ada Kamus Rasa karya Sarah Diorita yang harganya cuma 16.000! November benar-benar tahu cara menggoyahkan tekad BBB-ku.
2. Diskusi Buku bersama hervoice.tmg
Isu perempuan selalu punya tempat khusus di kepalaku. Jadi ketika ada kesempatan mengikuti diskusi bersama hervoice.tmg, aku langsung semangat. Tema kali ini membahas salah satu bab dari buku Mbak Kalis Mardiasih, Luka-Luka Linimasa.
Meski hari itu hujan tapi peserta yang datang cukup banyak. Suasananya tetap hangat. Di tengah ruangan yang ramai itu keberanianku tetap muncul. Aku bisa menyampaikan opiniku tanpa rasa canggung. Ada sesuatu dalam cara komunitas ini bergerak terutama Kak Rusti sebagai pendiri yang membuatku merasa nyaman. Seperti menemukan ruang aman.
3. Book Party
November juga diwarnai oleh dua kali pertemuan tmgbookparty: tanggal 9 dan 30. Yang tanggal 9… ah, itu cerita tersendiri. Kami memilih Alun-Alun sebagai tempat berkumpul, tanpa tahu bahwa hari itu adalah puncak perayaan HUT Temanggung ke-191 lengkap dengan 1000 penari. Bayangkan saja, musik keras, lautan orang, dan kami yang hanya ingin ngobrol soal buku.
Aku dan Mbak Dea sempat khawatir hal itu akan membuat anggota baru kapok. Apalagi ada yang datang jauh-jauh dari Mondoretno, Kec. Bulu. Tapi kekhawatiran itu sirna hari ini. Mas Ali dan Mas Atif yang waktu itu ‘bertarung’ dengan keriuhan Alun-Alun ternyata tetap datang lagi.
Belum lagi kehadiran Mbak Ayya dan Mas Zaki dari Pringsurat, serta Mbak Eny dari Parakan yang baru bergabung. Pertemuan ini memberikan rasa syukur yang besar buatku.
4. Menemukan dan Membaca Buku Langka
Suatu siang, aku berjalan perlahan menyusuri rak-rak buku di ruang koleksi umum perpusda. Tidak benar-benar mencari sesuatu, hanya membiarkan langkah dan mataku memilih. Lalu tiba-tiba, sebuah judul membuatku berhenti: Para Priyayi karya Umar Kayam.
Aku tidak percaya. Rasanya seperti menemukan harta karun. Sebelumnya, saat mengecek katalog perpusda, judul ini tak muncul. Yang ada hanya Seribu Kunang-Kunang di Manhattan dan beberapa karya lain. Maka saat melihatnya langsung di rak, aku tahu buku ini harus kubawa pulang.
Kondisinya memang menyedihkan. Sampul plastiknya robek, warnanya mulai kusam. Aku melepas sampul lamanya dan memberi sampul baru. Ada rasa sayang yang aneh ketika melakukannya, seperti merawat sesuatu yang hampir terlupakan.
Sayangnya, Para Priyayi termasuk buku langka. Tidak ada cetakan ulang, dan tidak ada tanda-tanda penerbit mayor akan menerbitkannya lagi. Padahal, menurutku, buku ini masih sangat relevan.
Umar Kayam membahas siapa yang layak disebut priyayi tentang nilai, tentang perbuatan, tentang kelas sosial yang tak sekadar soal uang. Di zaman sekarang, mungkin istilah “sultan” lebih sering kita dengar untuk menyebut orang yang kaya atau punya jabatan strategis.
Tapi… apakah mereka benar-benar setara dengan makna “priyayi” yang diuraikan Umar Kayam? Pertanyaan itu terus berputar-putar di kepalaku.
5. Undangan Bedah Buku di Pasar Papringan
Aku bahkan sudah membuat tulisan tersendiri tentang pengalamanku ini. Meski aku tergolong asing di lingkaran perkumpulan itu, dengan orang orang yang sudah biasa berkecimpung di komunitas tsb mereka tetap menerimaku dengan baik. Terutama aku sangat berterima kasih dengan teman lamaku, Wening Lastri. Aku selalu mengaguminya. Sehat selalu mba Wening semangat membersamai warga di desa Ngadiprono dan semoga manfaat yang kamu tebarkan bisa semakin dirasakan masyarakat luas.
6. Women Walking Tour
Ini jadi pengalaman kedua aku ikut Walkihg Tour tapi kali ini sedikit berbeda. Selain membahas sisi sejarah dari beberapa tempat yang kami lewati, kak Rusti juga memandu kami untuk mengamati bagaimana fasilitas publik yang kami temukan apakah sudah cukup aman bagi perempuan, anak, disabilitas dan lansia. Boleh dibilang ini semacam uji kelayakan fasilitas publik dalam rangka memperingati 16HAKtP.
Seru, banyak insight yang kudapat. Baik dari nilai historis maupun pengetahuan bagaimana seharusnya ruang publik jadi tempat aman bagi semua masyarakat tanpa terkecuali.




















