Dunia yang Buram
Desember 18, 2025Kita menatap lalu lalang keriuhan di jalan raya. Seakan menatap ke arah dunia yang berbeda. Dari balik etalase buram yang membatasi kita dengan jalan raya itu. Debu debu beterbangan dan gersang jelang kemarau. Tapi hatiku hujan deras. Mataku menggenang air mata. Sementara kau hanya membisu.
Bagaimana ini?
Aku bertanya lebih pada mengusir senyap. Jawaban tentu tak ada. Segalanya buntu. Memang tak pernah ada jalan keluar untuk kita lalui. Setapak setapak yang kita lewati adalah belantara yang dengan paksa kita sibak. Belukarnya kita tebas tebas saja dengan tangan kosong. Terluka kita selama perjalanan.
Meski lagi lagi buntu atau belukar, kita terus mencari jalan dan menamainya sendiri. Meski kompas tak menunjukkan arah, meski langit terus gelap tanpa rasi bintang yang bisa kita baca, kita melangkah.
Ketika samudra menjadi pembentang jarak, kita menunggunya kering. Kau melipat jarak jarak itu. Menghampiriku lagi di sudut rindang yang kini gersang.
Pantulan wajah kita pada kolam jernih itu membuyar. Adakah jalan yang bisa kita lewati di depan sana? Adakah perahu yang akan mengantarkan kita berlayar? Pertanyaan itu menggantung sepi tanpa pernah kita bicarakan lagi.
Kamu yakin?
Kini giliran kau yang melempar pertanyaan. Gemanya direkam baik oleh dinding dan bangku tempat kita duduk membenamkan perasaan masing masing. Mendadak kilasan hari kemarin satu persatu muncul dalam benak.
Terkahir kali kulihat dinding dinding itu runtuh rata dengan tanah. Segala ruang tempat kita singgah telah dilamun masa hilang, berubah.
Kita kembali pada ketiadaan. Aku hanya tersisa nama begitu juga engkau. Malahan aku tak yakin apakah aku pernah terlahir di dunia? Dan apakah kita ini nyata?




















0 Comments