Perjalanan Membaca Sepanjang 2025
Desember 30, 2025Meski jumlah buku yang kubaca tahun ini tidak sebanyak tahun lalu, aku merasa pengalaman membacaku justru jauh lebih bermakna. Aku membaca buku fisik dan buku digital. Dari dua format tersebut, rasanya tahun ini aku lebih sering meminjam daripada membeli, sekaligus menghabiskan daftar bacaan tertunda dari buku-buku yang sudah kumiliki 😅.
Berikut adalah perjalanan membacaku selama setahun beserta pengalaman di baliknya.
Januari
- Dari Dalam Rahim — Ester Lianawati
- Gelak Sedih — Eka Kurniawan
- Rasa Tanah Air — Fadly Rahman
- Nadira — Leila S. Chudori
Dari keempat buku di atas, hanya karya Eka Kurniawan yang kurang kusukai. Aku tahu beliau adalah penulis andal dengan karya-karya yang fenomenal. Namun, setelah banyak membaca bacaan bertema perempuan, tulisan Eka Kurniawan terasa kurang mengenakkan bagiku karena kerap kali terlalu vulgar dan mengobjektifikasi perempuan.
Sementara itu, buku Ester Lianawati, Fadly Rahman, serta tema yang diangkat Leila S. Chudori dalam Nadira menjadi pembuka sekaligus penentu pola bacaanku di tahun ini: seputar perempuan, sejarah, hal-hal yang berkaitan dengan “akar” identitas diri, serta isu kesehatan mental.
Februari
- Please Look After Mom — Shin Kyung-sook
- The White Book — Han Kang
- Bumi Manusia — Pramoedya Ananta Toer
Buku terjemahan dari Asia masih sangat mengesankan bagiku. Kesamaan budaya, misalnya dalam pola asuh keluarga. Sedikit banyak membuatku merasa dekat dengan tema-tema ceritanya.
Pada bulan Februari ini aku bertemu dengan dua penulis Korea Selatan, salah satunya Han Kang. Saat itu, kabar tentang dirinya yang memperoleh Penghargaan Nobel Sastra masih cukup hangat. Mungkin karena itulah Penerbit Baca cukup giat menerjemahkan karya-karya Han Kang lainnya, salah satunya The White Book.
Aku berkesempatan mengikuti pemesanan awal The White Book dan mendapatkan tas kain bertuliskan judul bukunya. Pengalaman membaca The White Book terasa berbeda dibandingkan dua buku Han Kang yang kubaca sebelumnya.
Di bulan ini pula aku akhirnya menamatkan Bumi Manusia, buku yang telah melewati berbagai rintangan dan pernah dilarang. Aku justru bertanya-tanya mengapa buku ini sempat dilarang. Terlepas dari siapa penulisnya, bagiku Bumi Manusia tidak memiliki unsur berbahaya. Mungkin karena aku membacanya di masa sekarang. Namun memang, sebagian besar ceritanya berkisar pada Minke si hopless romantic
Aku justru sangat mengagumi tokoh Nyai Ontosoroh, perempuan dengan kepribadian kuat dan progresif. Sayangnya, karena statusnya sebagai nyai, ia tidak memperoleh hak-hak yang seharusnya menjadi miliknya. Hal ini berbanding terbalik dengan karakter Annelies yang rapuh setelah terpisah dari belahan jiwanya.
Ulasan lengkapnya bisa dibaca di Instagram-ku, @punchpopjournal.
Maret
- Tak Mungkin Membuat Semua Orang Senang
- High Value Woman
- Muhammad Yamin
- Memenangkan Kembali Hati Anak
Pada bulan Maret aku menyelesaikan empat buku nonfiksi: tiga buku pengembangan diri dan satu buku biografi terbitan Tim Buku Tempo.
Jika kulihat sekarang, keempat buku ini terasa seperti penyeimbang karena pada bulan sebelumnya aku membaca tiga buku fiksi, salah satunya cukup tebal. Aku sering berada di titik jenuh membaca. Untuk mengembalikan semangat, aku biasanya beralih ke genre yang berbeda.
Bulan ini juga untuk pertama kalinya aku dihubungi penerbit dan diminta mengulas buku. Sebuah penerbit independen dengan buku High Value Woman. Meski akun Instagram bukuku belum terlalu besar, ternyata ada juga penerbit yang menghubungiku. Terima kasih. Terlebih, tema bukunya juga cukup menarik.
April
Yang Tak Kunjung Padam: Narasi Eksil Politik di Jerman — Soe Tjen Marching
Suatu kali aku sedang menyusuri deretan rak buku di ruang koleksi umum lantai dua Perpustakaan Temanggung. Kemudian aku menemukan buku yang sudah menjadi incaranku sejak awal akan terbit, tetapi sempat terlupakan karena banyak hal. Tiba-tiba aku melihatnya di rak. Tanpa berpikir panjang, langsung kubawa pulang.
Setelah membaca Rasa Tanah Air karya Fadly Rahman, aku kembali berjumpa dengan istilah eksil politik. Meski telah membaca berbagai buku sejarah dan buku nonfiksi bernuansa sejarah, pemahamanku tentang eksil politik, khususnya dalam sejarah Indonesia ternyata masih dangkal dan bahkan keliru.
Buku Soe Tjen Marching ini benar-benar mengubah pemahamanku tentang siapa itu eksil, bagaimana kehidupan mereka, dan apa yang mereka alami. Aku sangat merekomendasikan buku ini bagi pembaca yang ingin mendalami sejarah politik Indonesia dan mengenal para eksil Indonesia di Jerman.
Mei
- Jazz, Parfum, dan Insiden — Seno Gumira Ajidarma
- Semangkuk Mie Ayam Sebelum Mati — Brian Khrisna
- Jalan Raya Pos, Jalan Raya Daendels — Pramoedya Ananta Toer
- Haniyah & Ala di Rumah Teteruga — Erni Aladjai
- Dari Dalam Kubur — Soe Tjen Marching
Kelima buku di atas merupakan hasil pinjaman dari teman, perpustakaan, dan iPusnas. Salah satunya adalah kumpulan esai Pramoedya Ananta Toer yang cukup tipis.
Ini juga pertama kalinya aku membaca buku yang sedang ramai dibicarakan di lini masa, Semangkuk Mie Ayam Sebelum Mati, yang ternyata bukan seleraku. Untungnya aku hanya meminjam, jadi tidak terlalu kecewa. Meski begitu, aku tetap menghargai penulisnya. Menulis buku dan menerbitkannya di penerbit besar tentu bukan hal mudah.
Bulan ini aku juga teringat pengumuman dari Mbak Jannet tentang Lapak Baca Senaya yang mengizinkan buku-bukunya dipinjam secara gratis meski belum membuka lapak. Tanpa ragu, aku langsung memilih Dari Dalam Kubur, salah satu buku incaranku.
Selain itu, aku mulai menyadari satu genre fiksi yang kusukai, yakni fiksi dengan tema etnografi, seperti Haniyah & Ala di Rumah Teteruga.
Juni
- Parade Hantu Siang Bolong — Titah AW
- Perawan Remaja dalam Cengkeraman Militer — Pramoedya Ananta Toer
- Manusia Indonesia — Mochtar Lubis
Memasuki pertengahan 2025, semangat membacaku semakin menyala. Banyak buku dalam daftar keinginanku yang akhirnya tercoret berkat Lapak Baca Senaya dan pertemuan di Perpustakaan Daerah.
Tiga buku yang kubaca pada bulan Juni ini sangat berkesan, terutama Parade Hantu Siang Bolong. Aku sangat menyukai gaya penulisan Titah AW serta tema-tema yang diangkatnya. Bagiku, ia adalah penulis yang profesional sekaligus humanis, menghasilkan reportase faktual yang juga menyentuh. Sebagai pembaca setia artikel Vice Indonesia, buku ini terasa sangat memuaskan karena versi uncut
Juli
- Tragedi Mei 1998 dan Lahirnya Komnas Perempuan — Dewi Anggraeni
- Hello Habits — Fumio Sasaki
- Cursed Bunny — Bora Chung
Tentu saja, aku masih dalam fase meminjam buku. Mengapa tidak, jika memang bertemu dengan buku-buku menarik?
Namun, menamatkan buku Dewi Anggraeni bukanlah hal mudah. Terlalu banyak fakta dan kisah tragis tentang korban pemerkosaan massal Mei 1998, serta perjuangan para aktivis mendampingi korban untuk memperoleh keadilan. Apalagi saat itu masih hangat pernyataan Fadli Zon yang menyebut pemerkosaan massal sebagai rumor.
Sebelum membaca buku ini, aku juga menonton siniar Bocor Alus Politik yang menghadirkan Ita Fatia dan Palupi Tim Gabungan Pencari Fakta. Buku ini terasa melengkapi semua yang sebelumnya kudengar.
Aku menyeimbangkan bacaan dengan Hello Habits karya Fumio Sasaki. Buku sebelumnya cukup mengubah hidupku, tetapi di buku ini aku hanya terkesan pada beberapa poin saja.
Adapun Cursed Bunny sebenarnya adalah buku incaranku, meski hanya kubaca melalui Ruang Buku Kominfo. Menurutku, buku ini sangat layak dikoleksi. Ceritanya menarik, meneror pembaca dengan cara yang santai seperti menonton drama cerita seru psikologis dengan unsur horor tanpa kejutan berlebihan.
Agustus
- Perempuan-Perempuan Perkasa di Jawa Abad XVIII–XIX — Peter Carey
- Momoye, Mereka Memanggilku — Eka Hindra & Koichi Kimura
- Girls — Minato Kanae
- Tangan, Ikan Mongfish (It’s Okay to Not Be Okay jilid 4) — J.D.
Sekali lagi, pertemuan tak terduga dengan buku langka. Momoye, Mereka Memanggilku membahas Jugun Ianfu di Indonesia, topik yang masih sangat minim dibahas. Buku ini penting untuk merawat ingatan kolektif kita.
Meski temanya tentang kekejaman tentara Jepang terhadap perempuan, buku ini relatif aman dibaca karena tidak menampilkan kekerasan secara eksplisit. Karena dituturkan langsung oleh penyintas, dampak emosionalnya justru terasa lebih kuat.
September
- Namaku Alam — Leila S. Chudori
- Journal of Gratitude
- Lebih Senyap dari Bisikan — Andina Dwifatma
Aku ingin meminta maaf sebesar-besarnya kepada Arisa, kakakku, dan adikku. Buku hadiah ulang tahunku yang ke-30 baru kubaca setahun kemudian. Maaf, ya.
Aku juga baru ingat belum mengulas Journal of Gratitude. Buku ini terasa sangat menghangatkan hati. Tulisan dan ilustrasinya menenangkan, cocok dibaca saat hujan sambil minum teh.
Oktober
- Totto-chan: Gadis Cilik di Jendela
- Horologium Florae — Ferisa
- The Little Grey — Sheva Talia
- Kembang-Kembang Genjer — Francisca Ria Susanti
- Sarwo Edhie dan Misteri 1965
- Teh dan Pengkhianat — Iksaka Banu
- Burung-Burung Manyar — Y.B. Mangunwijaya
Sepertinya tempo membacaku di bulan Oktober sedikit lebih cepat. Mungkin karena aku cukup ambisius mengejar target 52 buku dalam setahun.
Bulan ini aku mulai mengunjungi Nan Cita dan menyewa buku. Karena itulah aku merasa perlu segera membaca buku sewaan, setiap hari terlewat berarti biaya. Untungnya, buku yang kusewa tergolong page-turner
Pengalaman menarik lainnya, aku mendapatkan Burung-Burung Manyar dari Mas Abi secara cuma-cuma. Buku ini cukup mahal dan mulai langka. Ketika temanku Sovia meminjamnya, ia bercerita bahwa semua latar dalam buku itu tergambar jelas di benaknya karena ia pernah mengikuti tur jalan kaki bersama Mlaku Magelang. Aku merasa Sovia memiliki hubungan yang lebih mendalam dengan buku ini. Maka aku memintanya untuk menyimpan dan merawatnya. Sepertinya jodoh buku ini memang bersama Sovia, dan aku hanya perantara dari kebaikan Mas Abi.
November
- Kamus Rasa Sarah Diorita — Sarah Diorita Chandra
- Para Priyayi — Umar Kayam
- Kios Pasar Sore — Reda Gaudiamo
November adalah bulan yang cukup sibuk. Banyak acara menarik yang kuikuti dan sudah kuceritakan disini sehingga aku hanya membaca tiga buku. Meski begitu, ketiganya sangat berkesan.
Aku pertama kali mengetahui Kamus Rasa Sarah Diorita dari ulasan Kak Flo di Instagram, tetapi baru tertarik setelah melihat rekomendasi akun @temanbacalestari. Aku membacanya lewat iPusnas dan baru menyadari harganya sangat terjangkau setelah selesai membaca. Akhirnya aku tetap membeli buku fisiknya.
Buku ini mengingatkanku pada The Journey of Belonging karya Lala Bohang dan Lara Nuberg tentang identita, keluarga, dan perasaan. Yang menarik, Sarah tidak mengalami krisis identitas meski berdarah campuran. Ia dibesarkan dengan pemahaman bahwa dirinya sepenuhnya Indonesia dan sepenuhnya Prancis.
Desember
- Na Willa — Reda Gaudiamo
- Na Willa dan Rumah dalam Gang — Reda Gaudiamo
- Babad Ngalor Ngidul — Elizabeth D. Inandiak
- Na Willa — dan Hari Hari Ramai
- Saga dari Samudra — Ratih Kumala
- Oeroeg — Hella S. Haasse
Aku mengakhiri perjalanan membacaku cukup dini. Pada 20 Desember aku sudah membuat rekap bacaan dan memilih membaca dengan santai. Jika selesai, syukur. Jika tidak pun tak masalah.
Aku mendapat kesempatan membaca seri Na Willa buku yang sangat cocok untuk anak-anak dan ingin sekali kukoleksi kelak. Buku-buku lain pun tak kalah berkesan. Babad Ngalor Ngidul kubaca bertepatan dengan bencana alam di Aceh dan Sumatra. Saga dari Samudra menjadi gerbang awal bagiku untuk mengenal sejarah Wali Songo. Sementara Oeroeg memberi pengalaman membaca klasik yang singkat namun menyenangkan.
Itulah sekilas perjalanan membacaku sepanjang 2025. Aku menargetkan 52 buku, tetapi gagal memenuhinya dan hanya berhasil membaca 46 buku. Di akhir tahun ini aku menyadari bahwa kuantitas tidak lagi menjadi yang utama. Aku bersyukur bisa membaca buku-buku yang kuinginkan meski acak, ternyata banyak yang kusukai.
Tahun depan aku ingin membaca dengan lebih sadar. Meski jumlah bukan segalanya, aku tetap akan memasang target agar lebih konsisten. Mungkin tiga atau empat buku per bulan. Untuk tantangan, aku ingin mencoba genre misteri. Bagaimana menurut teman-teman?




















0 Comments