Hati yang Terkoyak

Mei 17, 2026

Sesungguhnya air mata yang telah berlinang sepekan lalu merupakan pertanda. Pertanda agar aku tenang dan menahan diriku. Namun sering kali apa yang kulakukan justru sebaliknya. Tak mengindahkan pertanda pertanda. Maka aku tersungkur, dinistakan. Aku ingin menangis tapi tinggal tetesan air mata di sudut. Belum juga jatuh tetesan itu mengering di pipi. 

Kita semua sering kali terpana pada rupa raga saja. Terlebih aku yang telah jatuh saat melihat parasnya. Ia yang berbeda, mengalir di darahnya begitu lain percampurannya. Dari leluhur yang begitu gagah nan agung. Menitiskan paras yang indah. Mata yang berkilat tajam, alis yang tebal, bibir tipis yang tersenyum menggetarkan sanubari. Namun oh kasihanilah ia. Betapa tingkah dan lakunya itu sembrono bukan main. Aku memang tak pernah sejengkalpun lebih baik. Namun ia melampaui batas kewajaran. Menerobos batas batas. Aku tak tahu apakah aku sedih atas nasibku atau mengasihani ia yang sebegitu lemahnya diperdaya bisikan bisikan dari jagad demit yang seram dan kotor. 

Aku tak punya kuasa untuk menuntunnya kembali pada cahaya. Atau aku akan terjerumus pula dan terjerat lalu sesak. Namun parasnya telah menjadikan aku tawanan yang menderita rindu oleh ekspektasiku sendiri. 

You Might Also Like

0 Comments

BLOG ARCHIVES

TIFANNY'S BOOKSHELF

Harry Potter and the Half-Blood Prince
Angels & Demons
Mati, Bertahun yang Lalu
Le Petit Prince: Pangeran Cilik
Di Kaki Bukit Cibalak
Goodbye, Things: Hidup Minimalis ala Orang Jepang
Orang-orang Proyek
Guru Aini
86
Ranah 3 Warna
The Da Vinci Code
Animal Farm
Hacker Rp. 1.702
Mata Malam
City of Thieves
Yang Fana Adalah Waktu
Kubah
Harry Potter and the Sorcerer's Stone
9 Matahari
Kim Ji-Yeong Lahir Tahun 1982

• T I F A N N Y •

•  T I F A N N Y  •
INFJ-T ・ semenjana ・ penikmat musik & es kopi susu ・ pencinta fotografi ・ pecandu internet ・ escapist traveller ・ sentimental & melankolis ・ suka buku & aroma petrichor ・ hobi journaling