32 Tahun Menjarah Alam

April 29, 2026


32 Tahun Menjarah Alam | A.S Rimbawana, Dihan Amiluhur, Putro Wasista | EA Books | Cetakan Pertama, April 2026 | 238 halaman | Nonfiksi - Sejarah

Awalnya aku berekspektasi buku ini akan banyak bercerita tentang dampak kebijakan Orde Baru Indonesia terhadap masyarakat, terutama bagaimana kerusakan lingkungan membuat hidup mereka semakin berat. Tapi ternyata tidak sepenuhnya begitu.

Buku ini lebih fokus pada proses bagaimana berbagai keputusan politik di masa Orde Baru diambil, terutama yang berkaitan dengan pertambangan, perhutanan, pertanian, hingga pembangunan industri. Semuanya dibungkus dalam narasi besar bernama “pembangunan”, baik untuk ekonomi, infrastruktur, maupun kesejahteraan.

Pembahasannya disusun cukup luas dan kronologis, mulai dari dampak awal pasca 1965, eksploitasi sumber daya di Papua, relasi antara minyak bumi dan modal internasional, perusakan hutan, pertambangan batu bara, hingga bagaimana pembangunan juga berdampak pada petani, satwa, gerakan lingkungan, dan polusi di perkotaan.
Dari keseluruhan itu, yang terlihat justru satu pola yang berulang.

Hutan yang telah menjadi ruang hidup masyarakat adat selama turun-temurun diserobot, lalu dipertanyakan secara administratif dengan logika sertifikat. Kekayaan alam dikeruk secara masif, tetapi manfaatnya hanya dirasakan oleh segelintir pihak. Sementara masyarakat yang terdampak justru harus berhadapan dengan rezim yang militeristik ketika berani bersuara. Dalam situasi seperti itu, nyawa bisa menjadi taruhan.

Pendekatan buku ini berbasis riset arsip media dan literatur, sehingga terasa seperti merangkai kembali potongan-potongan peristiwa yang sebelumnya tersebar. Alih-alih menghadirkan cerita lapangan secara langsung, buku ini menyusun pola dari berbagai kejadian yang jika dilihat bersama, menunjukkan bahwa persoalan lingkungan bukanlah sesuatu yang berdiri sendiri, melainkan bagian dari keputusan politik yang lebih besar.

Sebagai pembaca, aku sempat berharap ada penelusuran yang lebih jauh hingga ke kondisi hari ini. Tapi bisa dipahami karena fokus buku ini memang pada masa lalu. 

Ada satu hal yang cukup mengganggu bagiku. Di beberapa bagian, setelah memaparkan fakta yang sebenarnya sudah cukup kuat, penulis menambahkan komentar yang terasa terlalu menjelaskan. Padahal tanpa itu pun, pembaca bisa sampai pada kesimpulan sendiri. Hal ini sedikit mengurangi ruang bagi imajinasi dan kekritisan pembaca.

Namun di sisi lain, pilihan ini mungkin membuat buku lebih mudah diakses oleh pembaca yang lebih luas, tidak hanya mereka yang sudah terbiasa dengan isu-isu lingkungan atau bacaan kritis.

Terlepas dari itu, buku ini tetap penting. Terutama bagi yang tidak sempat membaca artikel satu per satu, buku ini seperti mengkonsolidasikan berbagai informasi yang tercecer menjadi satu bacaan yang lebih solid, terstruktur, dan mudah diikuti

Pada akhirnya, buku ini mengajak melihat bahwa persoalan lingkungan tidak bersifat individual, melainkan struktural. Ia berkelindan dengan keputusan politik, kepentingan ekonomi, dan ketimpangan kekuasaan. Dan dari sana, muncul pertanyaan yang terus terngiang: sebenarnya, untuk siapa pembangunan itu dilakukan?

You Might Also Like

0 Comments

BLOG ARCHIVES

TIFANNY'S BOOKSHELF

Harry Potter and the Half-Blood Prince
Angels & Demons
Mati, Bertahun yang Lalu
Le Petit Prince: Pangeran Cilik
Di Kaki Bukit Cibalak
Goodbye, Things: Hidup Minimalis ala Orang Jepang
Orang-orang Proyek
Guru Aini
86
Ranah 3 Warna
The Da Vinci Code
Animal Farm
Hacker Rp. 1.702
Mata Malam
City of Thieves
Yang Fana Adalah Waktu
Kubah
Harry Potter and the Sorcerer's Stone
9 Matahari
Kim Ji-Yeong Lahir Tahun 1982

• T I F A N N Y •

•  T I F A N N Y  •
INFJ-T ・ semenjana ・ penikmat musik & es kopi susu ・ pencinta fotografi ・ pecandu internet ・ escapist traveller ・ sentimental & melankolis ・ suka buku & aroma petrichor ・ hobi journaling