Pada Sebuah Titik Balik
April 20, 2026Gegap gempita isi kepalaku. Sementara di sudut gelap dalam benakku ada potongan kecil diriku yang riuh memanggil namanya. Jemariku telah menyimpan memori untuk terus mencoba mencari jejaknya. Begitu saja terus bahkan saat mata masih menyesuaikan diri setelah pejam. Jemariku lincah mengetuk dan menggulir layar.
Terjaga hingga larut. Meski aku enggan mengakui dan terus mengelak, tapi tentu ada sedikit terbersit harapan ia akan membalas pesanku. Malam ini barang kali. Begitu selalu pikiranku dari waktu ke waktu. "Mungkin benar hari ini, tunggu saja dulu." Pikiranku terus saja mensabotase.
Wahai diriku, masihkah bebal dan enggan memahami? Bahwa ia yang di sana tak mau membagi sedikit waktunya. Meski begitu lapang dan tak ada yang mendesak di kerjakan. Waktu luang pun tak ia bagi untuk sekadar membalas pesan. Entah satu kalimat saja. Paling tidak, "hai, aku telah membaca pesanmu, maaf aku belum bisa menanggapi." Begitu barangkali. Tapi dia tak anggap kau penting untuk sekadar mendapat secuil waktu, sepotong perhatian.
Ya ya ya. Aku tahu. Dan kini aku muak. Sunyinya bukan lagi hal yang membuatku berdegup untuk menunggunya datang kembali. Namun aku telah muak. Aku barangkali tengah sampai pada fase membenci. Dan inilah titik balik itu. Untuk sebuah akhir dan permulaan untuk meniti masa, melanjutkan hari hari tanpa namanya lagi.




















0 Comments