Perkenalan Singkat dan Kenangan yang Tinggal
Maret 01, 2026Saya baru saja menyelesaikan buku White Nights karya Fyodor. Ini merupakan pengalaman pertama saya membaca karyanya.
Fyodor Dostoevsky adalah sastrawan Rusia abad ke-19 yang namanya lekat dengan penggalian batin manusia. Ia menulis tentang rasa bersalah, kebebasan, iman, penderitaan, dan konflik moral sebagai pergulatan yang hidup di dalam tokoh-tokohnya. Hidupnya sendiri tidak lepas dari gejolak. Ia pernah ditangkap dan diasingkan ke Siberia, pengalaman yang kemudian membentuk pandangannya tentang manusia dan kehidupan.
Karya-karyanya memberi pengaruh besar pada perkembangan novel psikologis modern dan bahkan turut memantik diskusi dalam ranah filsafat serta psikologi.
White Nights pertama kali terbit pada 1848 dan termasuk karya awal Fyodor Dostoevsky ditulis jauh sebelum ia dikenal luas melalui novel-novel besarnya seperti Crime and Punishment dan The Brothers Karamazov. Meski tipis, karya ini kerap disebut sebagai salah satu pintu masuk untuk mengenal dunia kepenulisannya. Untuk itulah saya mencoba memulai membaca karya Fyodor dengan membaca novel ini terlebih dahulu.
Novel ini berkisah tentang seorang lelaki muda yang menyebut dirinya sebagai seorang “pemimpi”. Ia hidup dalam kesunyian kota Petersburg, lebih akrab dengan imajinasinya sendiri daripada dengan manusia lain. Hingga pada suatu malam musim panas dalam suasana “white nights”, ketika langit nyaris tak benar-benar gelap, ia bertemu dengan seorang perempuan bernama Nastenka.
Pertemuan yang tampak sederhana itu berkembang menjadi percakapan-percakapan panjang selama empat malam. Di antara keduanya tumbuh kedekatan yang lahir dari kesepian, harapan, dan kebutuhan untuk didengar. Namun di balik kehangatan itu, masing-masing membawa cerita dan kerinduannya sendiri.
Dalam ruang waktu yang singkat, kisah ini bergerak pelan tapi intens, tentang pertemuan, tentang harapan yang tumbuh, dan tentang kenyataan yang tak selalu berjalan seiring dengan mimpi.
Pengalaman membaca:
Karena kemampuan bahasa Inggris saya yang sangat terbatas, saya membaca versi terjemahan White Nights dari Diva Press. Entah kualitas terjemahannya yang masih belum cukup baik atau memang gaya penulisan Fyodor, di beberapa bagian rasanya kesadaran saya seperti tiba tiba hilang. Terutama di bagian Malam Kedua, saat si pemuda menceritakan tentang dirinya. Namun saya merasa sangat memahami dan merasa cukup akrab dengan sisi sentimentalnya.
Tahukah kamu bahwa aku sekarang suka mengunjungi pada tanggal-tanggal tertentu tempat-tempat aku pernah bahagia dengan caraku sendiri? Aku senang membangun masa kini harmonis dengan masa lalu yang tidak bisa lagi diperbaiki, dan aku sering berkelana seperti sebuah bayangan, tanpa tujuan, penuh kesedihan dan merasa tertolak, menyusuri jalanan dan bagian-bagian Petersburg. Betapa berharganya kenangan-kenangan itu! (Halaman 46)
Dan Nastenka! Mungkin dia terlihat terlalu kejam dan seenaknya. Meski memang tidak bisa dibenarkan juga sikapnya itu. Tapi saya merasa ia adalah perempuan naif dengan pengalaman hidupnya yang juga membuat dia kesepian. Tidak merasakan hangatnya kasih sayang orang tua, tertambat untuk terus merawat neneknya. Dia rindu untuk dinantikan kehadirannya karena ia dicintai, bukan sekadar dibutuhkan.
"Jangan salahkan aku, karena perasaanku tidak pernah berubah kepadamu. Aku sudah mengatakan bahwa aku akan mencintaimu, dan aku mencintaimu sekarang, aku lebih daripada sekadar mencintaimu. Ya Tuhan! Seandainya aku boleh mencintai kalian berdua sekaligus! Oh, seandainya saja kamu adalah dia!" (Halaman 98)
*
Motivasi utama yang menggerakan saya untuk membaca karya ini adalah karena seseorang. Bulan lalu tak sengaja mengobrol dan berkenalan singkat. Setelah membaca novel ini rasanya perkenalan singkat dan obrolan panjang kami itu ironisnya hampir mirip kisahnya. Ada juga saat kami sama sama enggan mengakhiri seperti di halaman 94 buku ini.
Saya merasa diri saya seperti gabungan dari kemelankolisan si pemuda dan kebingungan Nastenka. Sementara ia ... Akhirnya memilih lenyap tanpa menjelaskan apa-apa. Saya kira kami bakal tetap berteman. Nyatanya tidak juga dan saya memilih untuk tidak lagi menunggu. Yah kami jadi asing lagi satu sama lain dan tidak terhubung sama sekali.
Wah tulisan macam apa ini, lagi lagi curhat. Padahal di bulan yang baru ini saya memutuskan untuk meletakkan saja semua tentang dia. Tapi toh saya membaca buku yang pernah dia singgung. Yang pernah dia baca. Entah apa yang saya harapkan setelah ini. Paling tidak saya bisa sedikit tahu isi pikirannya yang menyimpan pengalaman membaca buku buku itu.
Sebagai pembuka, ternyata saya sangat suka. Ceritanya berkembang dari pergulatan batin tokoh. Saya menyukai novel yang seperti ini. Rasanya ini permulaan yang baik untuk mengulik novel klasik serupa.




















0 Comments