Musim Musim Kehilangan
Maret 12, 2026Apa yang terjadi pada hidupku? Aku masih kesulitan mencerna segalanya. Pagi itu aku masih menggerutu saat ibu membangunkanku. Dengan enggan aku bangun dan bersiap ke sekolah. Namun, belum juga semua kegiatan di sekolah usai, ada salah satu kerabat menjemputku.
Siang merayap perlahan ketika ibu dan adikku mengalami kecelakaan tunggal. Pikiranku seolah berhenti bekerja. Suara riuh kerabat dan tetangga yang mengurus pemakaman ibuku seperti dengung lebah yang memekakkan telinga. Sementara aku seperti dikurung dalam sebuah bola transparan. Aku mendengar semuanya secara putus-putus dan merangkainya sendiri.
Ibuku yang baru saja menjemput adik perempuanku dari sekolah harus menjemput nenek. Ia bersikeras meminta ibuku menjemputnya, meski angkutan umum berlalu-lalang. Aku benci nenek. Jika saja dia pulang naik angkutan umum saja dan bukannya merepotkan ibuku, mungkin ibuku punya waktu istirahat sehingga ia tidak lalai lupa mencabut kunci sepeda motornya saat berhenti sejenak. Sedangkan adikku yang tolol itu malah memegang kemudi dan memutar gas. Kendaraan melaju tak terkendali saat ibuku bahkan belum menyadari apa yang terjadi. Mereka menghantam pembatas jalan dengan begitu keras dan berakibat fatal.
Kematian tak terelakkan setelah luka parah di kepala ibuku. Percuma saja aku menyalahkan nenek yang merepotkan atau adikku yang bodoh itu. Mereka tak tahu apa-apa. Hanya bertindak seperti biasanya di hari-hari yang biasa pula. Hanya saja mungkin Tuhan sudah berkehendak untuk menyudahi masa hidup ibuku di dunia, sedang caranya lewat hal-hal yang kini masih kusesali.
Aku tinggal bersama ayah, adikku, dan nenekku itu, yang merupakan ibu dari ibuku. Karakternya sangat keras dan dia memegang kendali segalanya. Membuat aku jengah dan tak kuat berada di rumah. Mendengarnya merepet tiada henti, mengomentari segala apa yang terlihat olehnya. Berkali-kali ayah menjadi sasaran ketidakpuasaan akan hidupnya sendiri setelah menjanda.
Aku dan adikku masih belajar membiasakan diri hidup tanpa kehadiran ibu. Begitu sepi hidup sepeninggal ibu. Seolah daya hidup kami ikut mati dan terkubur bersama jasadnya pada hari itu.
Tanpa tanda apa pun, suatu pagi ketika aku bangun rasanya kewarasanku hampir saja tercerabut. Dada ini terasa kosong, bagai terhempas ke hampa udara. Bernapas pun sesak, apalagi berteriak. Aku mendapati tubuh ayah tergantung di belakang rumah—tempat biasa kami meletakkan kendaraan, cucian yang masih basah, serta berbagai perabotan rusak yang tidak diperlukan sebelum dibuang. Tubuh ayahku menggantung, tampak menyatu dengan ruangan suram itu.
Aku tak tahu apa yang kurasakan. Namun aku kecewa karena ayahku menyerah dan membiarkan aku dan adikku melanjutkan hidup kami tanpanya. Ingin kuumpat, dasar pecundang. Tapi di sisi lain dia begitu berani menantang Tuhan yang bahkan belum memanggilnya untuk kembali. Lancang betul.
Kerabat berdatangan dan mereka membisu, menatap aku dan adikku dengan tatapan iba yang sudah akrab denganku beberapa tahun terakhir ini. Dan sesungguhnya penyebab penderitaanku yang tiada habisnya ini secara tidak langsung adalah nenekku. Tapi dia tak sedikit pun menyorotkan kesan perasaan bersalah. Kebencianku kian bertambah.
Hari ini pada akhirnya hanya tersisa aku dan adikku. Nenek pun telah mengembuskan napas terakhirnya. Jika ada yang mengerti nasib kami, mungkin pamanlah yang tahu. Ia hari ini sempurna menjadi yatim piatu, duda, adiknya sudah lama tiada, dan kini aku serta adikku akan menjadi tanggungannya juga. Begitu berat beban di pundaknya.
Namun aku sudah meninggalkan masa kanak-kanakku. Aku akan berjalan melanjutkan perjalanan nasibku ke depan, yang entah akan seperti apa. Aku ingin menjadikan paman sebagai teman sesama lelaki yang berbincang perihal kehidupan. Aku menginginkan kawan tempat aku berkeluh kesah, meski aku sendiri sudah lama kelu dan tak menemukan kata-kata untuk menguraikan kepedihan yang bertubi-tubi ini.




















0 Comments