Aktivitas Membaca Belakangan Ini
Maret 12, 2026Setelah percobaan membaca karya Fyodor Dostoevsky beberapa waktu lalu, saya kembali mencoba membaca karyanya yang lain berjudul Catatan dari Bawah Tanah. Ah, namun sayang, sampai jatuh tempo peminjaman dari perpustakaan, saya belum berhasil menyelesaikannya. Saya memutuskan untuk DNF dan mengembalikan buku tersebut ketimbang memperpanjang masa pinjamannya.
Meski terbitan Kepustakaan Populer Gramedia, saya masih kesulitan memahami arah ceritanya. Sekali lagi, saya tidak yakin apakah ini soal penerjemahannya atau memang gaya tulisan Dostoevsky yang bagi otak saya terlalu membingungkan. Hehehe.
Dari pengalaman itu saya jadi menyadari bahwa saya jauh lebih nyaman membaca buku yang memang sejak awal ingin saya baca. Motivasi membaca hanya karena orang lain membacanya ternyata tidak cukup efektif bagi saya, jika saya sendiri tidak memiliki ketertarikan yang kuat.
Padahal, membaca buku yang berisi kekalutan pikiran seseorang itu sebenarnya menyenangkan, seperti mengikuti sebuah petualangan batin. Namun sejauh ini, tema-tema seperti itu justru lebih bisa saya nikmati lewat sastra Asia, misalnya Jepang atau Korea.
Saya sempat bertanya-tanya, kenapa ya? Mungkin karena sesama Asia membuat kultur, budaya, dan kebiasaan yang tergambar terasa lebih dekat. Terlebih sejak membaca trilogi Hujan Bulan Juni karya eyang Sapardi Djoko Damono, saya mulai menyadari adanya kemiripan nuansa budaya Jepang dengan Jawa, latar budaya saya sendiri.
Mulai dari kepercayaan pada mitos dan takhayul, hingga unggah-ungguh dalam kehidupan bermasyarakatnya yang terasa serupa. Cara berhubungan dengan orang lain, rasa sungkan dan canggung saat mengutarakan sesuatu. Bahkan kecenderungan tersesat dalam batin dan pikiran sendiri, padahal solusi yang dibutuhkan hanyalah komunikasi. Bikin geregetan, tapi begitulah adanya.
Saat ini saya sedang menikmati kumpulan cerpen penulis Jepang, dari yang klasik hingga kontemporer, yang dikurasi oleh tim Penerbit BasaBasi. Judul buku ini diambil dari salah satu cerpen Haruki Murakami, Tahun Spageti.
Perjalanan saya mendapatkan buku ini pun cukup panjang. Awalnya saya sudah mengantre lama di iPusnas, hingga akhirnya memutuskan untuk memburu cetakan fisiknya.
Meski terbilang baru, tampaknya buku ini merupakan stok lama sehingga kertasnya sudah mengalami oksidasi, menguning dan agak kaku. Namun itu bukan masalah. Sejujurnya, saya justru menikmati buku-buku yang mengalami proses alami seperti ini.
Asalkan tidak rapuh dan hancur terlalu cepat, bagi saya buku yang menguning terasa seperti diri saya sendiri yang pelan-pelan menua seiring waktu




















0 Comments