Membaca Ikan Ikan Hiu, Ido, Homa Karya Romo Mangun
April 14, 2026Novel Ikan-Ikan Hiu, Ido, Homa karya Y.B. Mangunwijaya berlatar kepulauan Maluku pada abad ke-16 hingga awal abad ke-17, di masa peralihan pengaruh Portugis menuju kekuasaan VOC. Alih-alih menyoroti tokoh besar atau pusat kekuasaan, cerita bergerak melalui kehidupan masyarakat biasa di wilayah Halmahera, Ternate, Tidore, hingga Banda. Berbagai tokoh hadir silih berganti, menggambarkan keseharian, relasi sosial, serta konflik yang terjadi di antara mereka.
Ketegangan memuncak ketika kekuatan kolonial Belanda mulai menguasai perdagangan rempah, yang berujung pada kekerasan dan penaklukan, termasuk tragedi di Kepulauan Banda di bawah kekuasaan Jan Pieterszoon Coen. Romo Mangun menggunakan metafora “hiu, ido, homa” untuk menggambarkan rantai kekuasaan, di mana yang kuat memangsa yang lemah.
Seperti kebanyakan karya Y.B. Mangunwijaya yang pernah kubaca, ada sensasi “tersesat” saat menyelami tulisannya. Di satu sisi terasa paham, tapi di sisi lain juga asing. Banyak perumpamaan yang kadang membuat alurnya terasa melompat: dari A, tiba-tiba ke Z. Tapi justru sensasi seperti itu yang terasa candu, yang membuatku ingin terus bertahan hingga selesai.
Belum lagi penggunaan bahasa daerah yang cukup banyak, sayangnya, keterangannya diletakkan di bagian awal, bukan dalam bentuk catatan kaki. Karena aku membaca versi digital, ini jadi sedikit merepotkan karena harus bolak-balik halaman.
Yang selalu kusuka dari Romo Mangun adalah caranya mengeksplorasi batin tokohnya, menyelami kompleksitas mereka dalam menghadapi situasi dan konflik. Dari sana, aku justru dibawa pada perenungan yang cukup dalam.
Ini bukan novel yang mudah dibaca, tapi justru di situlah letak kekuatannya. Ceritanya menarik untuk dipahami perlahan. Buatku pribadi, yang jarang membaca fiksi sejarah berlatar Indonesia Timur, novel ini benar-benar menambah khazanah bacaan sekaligus membuka wawasan. Bahkan setelah selesai, aku terdorong untuk mencari tahu lebih jauh sejarah di baliknya.
Kalau kamu menyukai gaya bercerita Romo Mangun dan tertarik pada fiksi sejarah, novel ini layak untuk dibaca.





















0 Comments