Relasi Ibu Anak dan Trauma Antar Generasi yang Diwariskan
April 23, 2026Novel ini mengisahkan seorang ibu yang memilih untuk tidak menyusui anaknya karena merasa tidak ada yang layak diwariskan dari dirinya selain kepahitan. Dari titik itu, cerita berkembang menjadi potret relasi ibu–anak yang retak, sekaligus kisah tiga generasi perempuan yang hidup dalam tekanan sistem sosial-politik di Latvia pada masa pendudukan Soviet.
Membaca Air Susu Ibu karya Nora Ikstena awalnya tidak mudah. Aku sempat merasa asing dengan alur yang berpindah-pindah antara sudut pandang ibu dan anak, juga dengan lompatan waktu dari masa kecil keduanya. Namun pelan-pelan aku belajar mengikuti ritmenya hingga akhirnya cerita ini terasa utuh.
Yang paling membekas bagiku adalah bagaimana tokoh anak bertumbuh. Perubahannya halus, nyaris tak terasa, tapi nyata. Digambarkan lewat gaya penulisan di POV si anak. Ini sangat brilian.
Relasi ibu dan anak di novel ini juga terasa terbalik. Sang ibu, yang hidup dalam tekanan sistem dan kehilangan kendali atas hidupnya membuatnya tidak mampu menjalankan peran keibuan secara utuh. Sementara sang anak, yang tidak diasuh langsung oleh ibunya, tumbuh menjadi pribadi yang penuh kasih bahkan seperti merawat ibunya dengan kesabaran dan kelapangan hati.
Ada luka yang tidak selesai dalam diri sang ibu sebagai perempuan, sebagai dokter, sebagai individu yang impiannya dihancurkan oleh keadaan. Tapi di saat yang sama, ia tetap menyimpan empati pada orang-orang di sekitarnya meski ia sendiri rapuh.
Aku juga sangat menikmati gaya bertutur Nora Ikstena yang tidak menjelaskan segalanya secara gamblang. Perasaan, situasi, bahkan luka disampaikan lewat dialog, fragmen, dan metafora yang terasa seperti teka-teki.
Membaca buku ini juga membawaku memahami sedikit tentang Latvia di masa pendudukan Soviet dan sekali lagi mengingatkan bahwa dalam sejarah yang penuh gejolak, perempuan sering kali menjadi pihak yang paling awal dan paling dalam merasakan dampaknya menjalar hingga ke ruang hal personal sepeerti tubuh, relasi, bahkan cara mencintai.





















0 Comments