Kepada Sang Pengelana
Mei 18, 2026Aku rasa aku perlu berhenti sampai di sini.
Sesungguhnya air mata yang telah berlinang sepekan lalu merupakan pertanda. Namun seringkali manusia justru melawan firasat yang datang diam-diam seperti angin senja. Begitu pula aku. Tak mengindahkan tanda-tanda yang telah mengetuk perlahan. Maka aku pun tersungkur, dinistakan oleh harapanku sendiri. Aku ingin menangis, tetapi yang tertinggal hanya setitik air di sudut mata. Bahkan sebelum jatuh, air mata itu telah mengering di pipi.
Barangkali aku memang mudah terpukau pada permukaan. Pada rupa yang seperti diwariskan dari kisah-kisah lama. Dan aku jatuh terlalu cepat ketika melihatmu. Ada sesuatu dalam dirimu yang terasa berasal dari jalur leluhur yang jauh dari milikku. Seakan darahmu pernah ditempa oleh pelayaran panjang, oleh bangsa pengembara yang akrab dengan badai, terik matahari dan asin lautan. Sedang aku berasal dari tanah yang lebih teduh. Dari akar-akar yang tinggal dan bertahan di halaman yang sama selama musim berganti. Maka ketika menatapmu, rasanya seperti melihat burung laut singgah sebentar di kebun rumahku sendiri.
Parasmu membawa sisa kemegahan masa silam itu. Sorot matamu berkilat seperti ujung belati terkena cahaya, alismu tebal menaungi wajah yang sukar dibaca, dan senyummu tipis namun mampu mengguncang sesuatu yang lama lelap. Ada keelokan yang senyap. Karena itulah kau terasa memikat sekaligus berbahaya.
Namun, oh kasihanilah. Betapa tingkah dan lakumu seperti seseorang yang berjalan terlalu dekat ke tepi jurang sambil tertawa. Aku memang tak pernah sejengkal pun lebih suci atau lebih baik, tetapi kau melampaui batas-batas yang bahkan tak berani kusentuh. Seolah ada bisikan-bisikan gelap yang terus menuntunmu berlari ke tempat asing yang lembap dan penuh bayang.
Aku tak punya kuasa untuk menarikmu kembali menuju cahaya. Bisa jadi bila kupaksa, justru aku yang ikut tenggelam dan sesak dalam pekat yang sama. Maka akhirnya kusadari, barangkali selama ini aku hanya terpaut pada bayangan yang kubentuk sendiri diam-diam. Sosok yang kurangkai dari tatapan mata, dari caramu tersenyum, dari kemungkinan-kemungkinan yang tak pernah sungguh ada. Dan kini bayangan itu masih tinggal di kepalaku.
Dan mungkin karena itulah aku perlu berhenti sampai di sini.
Sebenarnya ada beberapa percakapan yang ingin terus berlanjut. Namun semakin lama aku juga semakin lelah. Ada hal-hal yang terus bergerak melewati batas yang sudah berusaha kujaga. Sementara aku makin sering merasa tidak nyaman dan kehilangan tenangku sendiri.
Maka setelah ini mungkin aku akan memilih menjauh dan tidak melanjutkan percakapan kita lagi. Bukan karena benci. Barangkali hanya karena aku sadar tidak semua hal harus dipertahankan sampai melukai diri sendiri.
Semoga langkahmu tetap menemukan jalan yang baik ke depannya. Dan semoga aku pun akhirnya bisa benar-benar pulang pada diriku sendiri.




















0 Comments