Apa Enaknya?

Januari 22, 2026

Hampir senada dengan anggapan kak Harum, kalau perempuan merokok itu keren (kamu nggak setuju? Skip aja dari sekarang), aku teringat beberapa adegan film dengan tokoh perempuan yang merokok dan cukup ikonik. Seperti Reo di film Farewell Song, Yeon Jin di The Glory dengan adegan merokok yang kemudian buru-buru mematikan rokoknya saat anaknya pulang, dan Yeom Mi Jeong yang meski nggak jadi merokok, tapi gayanya menjepit rokok dengan bibir dan hendak menyalakannya dengan korek itu dapet banget. Muka babak belur dan rasa frustrasi yang mendorongnya ingin merokok. Meski sayang, semesta tak mendukungnya karena ia ketiban jambu (emang iya ya, jambu?).

Ah, referensiku cupu sekali ya?

Kemarin aku juga baru saja membaca postingan Instagram Boleh Merokok soal pandangan perempuan merokok, dan dibahaslah Roro Mendut.

Roro Mendut, sih, mengisap lintingan rokok yang kemudian dijual lagi demi mendapat uang, bukan untuk menikmati rokok tersebut.

Tapi kalau alasanku pribadi, benar-benar karena penasaran.

Aku lupa kenapa rasa penasaranku bisa jadi begitu kuat. Sampai-sampai aku ada di fase membaca banyak artikel dan mendalami spek jenis-jenis rokok. Penasaran yang sudah berubah jadi obsesi aneh.

Lalu ketika Syawal hari ketiga, atau kedua ya? Entah tahun berapa, barangkali tahun 2023 kalau tidak salah, di belakang rumah pak dhe, waktu itu kami berdiri bertiga: mas suami, aku, dan adikku, mengobrol soal preferensi rokok.

“Emang kayak apa sih, Mas, rasanya?”

Entah sudah bosan mendengar pertanyaanku ini atau hanya menggertak biar aku diam, mas suami menyodorkan Surya yang baru setengah dihisap.

Aku coba mengisap dengan canggung, entah benar atau salah cara mengisapku.

Percobaan pertama itu malah semakin membuatku penasaran: di mana sih letak enaknya?

Akhirnya aku mencoba berbagai merek, tapi aku memulai dengan yang agak ringan, yakni Esse Berry Pop dengan click.

Lambat laun aku mulai memahami letak kenikmatannya—meski absurd. Menurutku, merokok adalah pengalaman yang sangat personal. Masing-masing perokok berangkat dengan alasannya sendiri kenapa merokok dan kenapa mereka menikmatinya. Aku rasa masing-masing punya cerita yang berbeda.

Buatku pribadi, saat mengisap dan merasakan racikan kretek serta aroma click-nya itu cukup nikmat. Dan titik kenikmatan paling puncak buatku adalah ketika menghembuskan asapnya.

Aneh ya? Kalau cuma mau inhale–exhale, tanpa rokok juga bisa. Tapi nggak tahu kenapa kalau pakai rokok ada kenikmatan tersendiri.

Sampai sekarang sih aku paling suka Esse Punch Pop dengan click mangganya itu. Sampai-sampai sempat terlintas saat aku sedang cari username baru untuk Instagramku. Wkwk. Dengan iseng aku pakai @punchpopjournal. Yap, nama itu kuambil dari Esse Punch Pop. Benar-benar konyol ya, wkwkwkwkwk.

Tapi karena harganya yang selalu naik dan naik, sekarang apa pun mereknya boleh lah, asal bisa sebat. Yang paling sering buat join-an sama mas, Win Click ungu. Kalau pengen ngeteng, ya Surya. Udah kayak kuproy bangetlah. Tapi Surya emang awet dan tarikannya lumayan berat. Enak kalau dihisap pas lagi capek banget habis nguli 🤣

Aku juga pernah coba lintingan punya bapak. Baunya kayak embah-embah dan rasanya cukup pedas. Mungkin cengkehnya cukup dominan.

Meski ada rokok putih yang hanya pakai tembakau dan saus saja, aku tetap penikmat kretek.

Sampai saat ini aku masih merokok sesekali. Meski aku merokok, aku sangat sebal dengan asap rokok dan baunya. Aneh sih, kata mas.

Meski aku tidak lagi peduli dengan anggapan negatif orang tentang perempuan yang merokok, aku tetap memperhatikan waktu dan hanya merokok di rumah saat ada suamiku.

You Might Also Like

0 Comments

BLOG ARCHIVES

TIFANNY'S BOOKSHELF

Harry Potter and the Half-Blood Prince
Angels & Demons
Mati, Bertahun yang Lalu
Le Petit Prince: Pangeran Cilik
Di Kaki Bukit Cibalak
Goodbye, Things: Hidup Minimalis ala Orang Jepang
Orang-orang Proyek
Guru Aini
86
Ranah 3 Warna
The Da Vinci Code
Animal Farm
Hacker Rp. 1.702
Mata Malam
City of Thieves
Yang Fana Adalah Waktu
Kubah
Harry Potter and the Sorcerer's Stone
9 Matahari
Kim Ji-Yeong Lahir Tahun 1982

• T I F A N N Y •

•  T I F A N N Y  •
INFJ-T ・ semenjana ・ penikmat musik & es kopi susu ・ pencinta fotografi ・ pecandu internet ・ escapist traveller ・ sentimental & melankolis ・ suka buku & aroma petrichor ・ hobi journaling