Lauk Daun
Januari 26, 2026Lauk Daun • Hartari • Penerbit baNANA • Cetakan Pertama, 2022 • 144 halaman • Naskah terpilih menarik perhatian juri Sayembara Novel Dewan Kesenian Jakarta 2021.
Awalnya tertarik baca buku ini karena judulnya yang tidak biasa. Tanpa melihat blurbnya aku menduga duga apakah ini cerita tentang menjadikan daun sebagai lauk? Atau cerita tentang pengalaman meramban? Haha coba simak ulasanku yuk!
Sinopsis Singkat
Novel ini mengambil latar sebuah lingkungan bernama Kampung Merdeka. Cerita dimulai dari proses pergantian kepengurusan RT–PKK yang sebenarnya sederhana tetapi berubah menjadi drama sosial penuh intrik, ambisi, dan konflik antarwarga. Tokoh utama yang dominan adalah Bu As, yang berambisi menjadikan suaminya sebagai Ketua RT sehingga bisa otomatis memimpin PKK. Ambisi itu berujung pada serangkaian kebijakan dan persoalan yang kerap memicu perdebatan, kritik, dan humor di antara para warga setempat. Latar pandemi COVID-19 juga hadir memberi warna baru pada konflik di kampung itu, termasuk wacana mengenai portal jalan dan “lockdown”— lauk daun.
Ahh ternyata sama sekali berbeda dari dugaanku! Selama membaca buku ini aku merasa gemas dan dibuat tertawa, terutama dengan segala tingkah polah bu As yang mendadak semena mena ketika menjabat jadi bu RT yang otoriter 🤣 Namun tidak hanya berhenti pada kisah Bu As. Ada tokoh lain bernama Yayuk, salah satu warga yang menyimpan dendam kesumat pada tetangganya. Dendam itu ia tuntaskan lewat cara-cara licik dan diam-diam. Dari sini, ceritanya jadi semakin menarik karena konflik tidak selalu hadir dalam bentuk pertengkaran langsung, tapi lewat tindakan kecil yang penuh maksud.
Penulis menggunakan gaya bercerita ringkas, lugas, dan ringan sehingga buku ini bisa saja diselesaikan sekali duduk.
Narasi ceritanya cenderung eksploratif pada kejadian sehari-hari warga kampung seperti arisan, percakapan di WA grup, acara tujuhbelasan, serta polarisasi kecil antar tetangga yang terasa sangat dekat dengan kehidupan nyata banyak pembaca Indonesia. Humor dan satir dalam ceritanya menghibur meskipun menggambarkan konflik sosial yang nyata.
Interaksi antarwarga, terutama melalui platform percakapan digital (grup WA) memperlihatkan bagaimana opini, gosip, dukungan, dan penolakan menyebar cepat dalam komunitas mirip dengan dinamika sosial media di kehidupan nyata kini.
Hal menarik lainnya adalah ceritanya sangat dekat dengan kehidupan kita sehari-hari. Ini mencerminkan beberapa fenomena sosial yang bisa diamati di masyarakat kita.
Struktur cerita novel ini cenderung pendek dan sederhana, sehingga plotnya bagi sebagian pembaca mungkin terasa kurang kompleks secara naratif.
Karena fokus pada slice of life, pembaca yang mencari drama intens mungkin merasa ini terlalu “ringan”.
Cocok dibaca bagi yang mencari cerita slice-of-life yang dekat dengan pengalaman sendiri, humor sosial yang jenaka, serta potret masyarakat kelas menengah ke bawah di Indonesia.





















0 Comments