Luka Masa Silam
Januari 12, 2026Belakangan sedang marak sekali buku Broken Strings sebuah memoar yang ditulis oleh Aurelie. Bahkan dia membagikannya secara gratis untuk bisa dibaca siapa saja. Namun aku belum berani membacanya karena memoar ini berisi pengakuan Aurelie yang pernah menjadi korban child grooming.
Isu child grooming ini sangat sensitif buatku karena aku juga pernah mengalaminya. Bahkan sampai tahun lalu aku belum sadar kalau dulu aku pernah menjadi korban child grooming.
Ternyata ketika seorang masih berusia di bawah 18 tahun menjalin hubungan dengan seseorang yang lebih dewasa, itu tergolong child grooming. Waktu itu aku masih umur 17 tahun ketika aku mengenal seseorang yang kemudian menjadi pacarku saat itu. Jarak usia kami terpaut 5 tahun.
Aku termasuk generasi fatherless yang tentu saja secara emosional sangat jauh dari bapakku. Saat ada seseorang yang memberikan perhatian lebih tentu saja aku menyukainya dan aku tidak sadar jika di kemudian hari aku menjadi korban manipulasinya.
Potongan tulisan Aurellie berseliweran di lini masa. Ada beberapa bagian yang membuatku terasa seperti menengok kembali ke hari hariku dulu.
Ada saat aku menyalahkan diri sendiri. Kenapa aku tidak membentengi diri dengan abcdef. Kenapa imanku ngga kuat bla bla bla. Selalu saat perempuan jadi korban sering kali perasaan bersalah yang pertama kali muncul. Semua itu dikonstruksi oleh masyarakat kita. Sedangkan pelaku bisa bebas begitu saja melanjutkan hidup.
Padahal banyak yang sudah dia ambil dari aku. Cara aku memandang hidup dan diriku sendiri menjadi berubah. Self worthku terjun bebas. Bahkan itu memengaruhiku bagaimana menjalin hubungan lain. Sialnya di hubungan berikutnya aku terjebak hubungan yang lebih toksik lagi. Kini aku masih bergelut dengan trauma trauma itu. Kadang aku berharap bisa mendapatkan bantuan profesional.
Kenapa tidak lari saja? Kenapa tidak menghilang saja? Aku pikir itu mudah untuk dikatakan. Namun aku juga tak mengerti kenapa aku tidak melakukannya.
Ada fase aku juga menyalahkan orang tuaku. Kenapa mereka tidak memberikan aku cukup kasih sayang sehingga aku harus jatuh bangun dimanipulasi orang lain. Bahkan relasi pertemananku juga terpengaruh.
Sekali ini aku baru berani mengungkapkannya. Bukan soal apa. Semoga saja hal ini tak terulang kepada orang lain atau generasi mendatang. Berhenti di aku. Biar aku yang babak belur begini. Aku juga ingin berusaha memaafkan untuk semua yang sudah melukaiku. Meski luka ini bakal tetap perih sampai kapanpun.
Aku tidak menuntut apa apa toh semua sudah terjadi. Perjalanan ini begitu panjang. Fase yang melelahkan untuk pulih. Apakah aku bisa? Aku harus menaruh kepercayaan pada diriku dan harapan, Allah akan menolongku.




















0 Comments