Membaca Ulang Bilangan Fu
Maret 19, 2026Ini adalah kali kedua aku membaca Bilangan Fu karya Ayu Utami setelah sebelumnya aku membacanya melalui perpustakaan digital. Namun karena saat itu aku tidak membuat catatan, ada beberapa hal penting yang terasa terlewat. Membaca ulang novel ini memberiku pengalaman yang jauh lebih utuh, meski tetap menyisakan banyak pertanyaan.
Buku ini terdiri dari tiga bagian besar: Modernisme, Monoteisme, dan Militerisme.
Ketiga unsur tersebut hadir dalam sebuah alur cerita yang bermula dari pertemuan tak sengaja antara Sandi Yuda, seorang pemanjat tebing, dengan Parang Jati, mahasiswa geologi yang tengah berupaya menyelamatkan kampung halamannya, Sewugunung, dari penebangan hutan serta penambangan batu oleh industri. Dalam proses itu, Parang Jati bahkan mampu memengaruhi Yuda untuk berubah, dari seorang pemanjat yang tak segan mengebor dan memaku tebing, menjadi penganut clean climbing.
Kisah berkembang melalui peristiwa misterius: hilangnya jenazah Kabur bin Sasus dari liang lahat. Peristiwa ini bukan sekadar teka-teki, melainkan pemantik yang membuka lapisan lain—tentang bagaimana masyarakat merespons ketidakpastian, bagaimana prasangka bekerja, dan bagaimana isu agama serta kepercayaan bisa dengan mudah dipolitisasi.
Latar waktu menjelang Reformasi semakin mempertebal nuansa kegelisahan. Referensi pada kasus “ninja” dan pembunuhan dukun santet menjadi cermin bagaimana kekerasan bisa digunakan sebagai alat manipulasi psikologis. Melalui sudut pandang Parang Jati, peristiwa ini dibaca sebagai strategi militeristik, cara untuk menciptakan ketakutan kolektif dan mengalihkan tuntutan publik.
Selain tema-tema tersebut, Ayu Utami juga menyinggung persoalan feminisme serta apa yang ia sebut sebagai spiritualisme kritis. Sebuah sikap yang, menurutku, penting dimiliki oleh siapa pun, baik yang beragama maupun yang menganut kepercayaan tertentu. Praktiknya adalah dengan melakukan laku kritik: membuka diri terhadap kemungkinan lain, tidak menjadikan suatu ajaran sebagai satu-satunya kebenaran mutlak, serta tidak merasa berhak menghakimi kepercayaan yang berbeda.
Aku menyadari bahwa tiga bagian utama dalam novel ini memiliki benang merah yang saling berkaitan. Modernisme, monoteisme, dan militerisme kerap hadir bukan hanya sebagai gagasan, tetapi juga sebagai alat legitimasi kekuasaan, baik oleh individu, kelompok, maupun institusi.
Hal yang masih terasa cukup absurd bagiku adalah konsep Bilangan Fu itu sendiri. Ia muncul dari mimpi aneh Yuda dan juga dari perenungan Suhubudi, ayah angkat Parang Jati. Keduanya memaknai Bilangan Fu (atau Hu) sebagai semacam bilangan mistik, sesuatu yang sulit dijelaskan secara logika dan bahkan sulit untuk benar-benar disimpulkan.
Bilangan Fu bukan untuk dipastikan tapi untuk dirasakan. Ia seperti menolak untuk disederhanakan menjadi satu makna tunggal. Sebuah simbol bahwa tidak semua hal bisa diringkas dalam kepastian.
Pada akhirnya, membaca Bilangan Fu bukan soal memahami semuanya dengan tuntas, melainkan bersedia hidup bersama pertanyaan-pertanyaan yang ditinggalkannya.
Novel ini seperti mengajak kita untuk curiga pada kemajuan yang terlalu cepat, kebenaran yang terlalu mutlak, dan pada kekuasaan yang represif.
Dan mungkin, di antara semua itu, “Bilangan Fu” adalah pengingat bahwa dunia tidak pernah sesederhana satu angka.





















0 Comments